BRMP Kalimantan Timur meninjau tiga sumber air di Samarinda untuk mendukung pembangunan Irpom dan Irpip serta menjaga produktivitas lahan pertanian selama periode kering.
AGRICOM, SAMARINDA – Pemerintah memperkuat langkah antisipasi kekeringan dengan memetakan sejumlah sumber air potensial untuk mendukung kebutuhan irigasi lahan pertanian di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Dilansir Agricom dari KBRN RRI, Senin (14/9). Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur bersama penyuluh pertanian, kelompok tani, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur serta Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) meninjau sejumlah lokasi sumber air di Kelurahan Handil Kopi, Pulau Atas dan Makroman.
BACA JUGA: Kementan Bangun 999 Jaringan Irigasi Tersier di Jabar-Banten Hadapi El Nino
Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi sumber air sekaligus memetakan kebutuhan sarana irigasi yang dapat digunakan petani selama periode kering.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kalimantan Timur, Ahmad Subhan, mengatakan pemetaan lapangan diperlukan untuk memastikan potensi sumber air dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pertanian dan kondisi masing-masing wilayah.
“Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi sumber air dan kebutuhan irigasi di lapangan. Dari hasil tersebut, nantinya dapat menjadi bahan koordinasi dan tindak lanjut sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah,” ujar Ahmad Subhan.
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
Tiga Sumber Air Dipetakan
Di Kelurahan Handil Kopi, tim meninjau kolam bekas tambang seluas sekitar 9,38 hektare dengan kedalaman antara 30–50 meter. Sumber air tersebut menjadi salah satu alternatif yang dikaji untuk mendukung kebutuhan air pertanian.
Ahmad Subhan juga bertemu dengan Ketua TWAP Syaparudin untuk membahas percepatan pembangunan sarana irigasi yang sebelumnya telah diusulkan. Koordinasi tersebut diarahkan agar kebutuhan irigasi di wilayah terdampak kekeringan dapat segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan.
BACA JUGA: Kementan Siapkan Rp2,3 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan pada 2027
Peninjauan berlanjut ke Kelurahan Pulau Atas. Di lokasi tersebut, pemerintah telah mengusulkan pembangunan irigasi perpompaan (Irpom) dengan memanfaatkan sumber air dari Sungai Mahakam.
Bersama penyuluh, lurah dan petani, tim melihat kondisi sumber air serta lokasi yang direncanakan menjadi bagian dari sistem penyediaan air untuk lahan pertanian.
Sementara di Kelurahan Makroman, tim meninjau kolam bekas tambang yang dikenal masyarakat sebagai Danau Tawes. Sumber air ini memiliki luas sekitar 13 hektare dengan kedalaman mencapai 80 meter.
BACA JUGA: Kementan Dorong Potensi Pangan Lokal Papua Jadi Kekuatan Baru Ketahanan Pangan Nasional
Ketiga lokasi tersebut menjadi bagian dari pemetaan awal untuk menentukan sumber air yang paling memungkinkan dikembangkan sebagai pendukung irigasi pertanian.
Kualitas Air Jadi Pertimbangan
Ahmad Subhan menegaskan, pemanfaatan sumber air tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan ketersediaannya. Sumber air, terutama kolam bekas tambang, perlu melalui kajian teknis dan pemeriksaan kualitas sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya.
Menurutnya, aspek kualitas air menjadi penting untuk memastikan air yang digunakan tidak menimbulkan risiko terhadap lahan maupun tanaman.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO September 2026 Naik 1,10% Jadi USD1.007,51 per Ton
“Yang paling penting adalah bagaimana sumber air yang ada dapat dimanfaatkan secara tepat dan sesuai kebutuhan. Untuk sumber air dari kolam bekas tambang, tentu harus mempertimbangkan aspek teknis dan kualitas air sebelum digunakan untuk pertanian,” katanya.
Pembangunan irigasi perpompaan (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip) dinilai menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan air ketika pasokan air alami menurun selama musim kering.
Selain membantu mengalirkan air dari sumber yang tersedia menuju lahan, kedua sistem tersebut diharapkan membuat pemanfaatan air menjadi lebih efektif dan mendukung keberlanjutan kegiatan budidaya petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 9–15 September 2026 Naik, Tertinggi Rp3.943,46/Kg
Pengembangan Irpom dan Irpip di Kecamatan Sambutan juga diarahkan untuk mendukung penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Konsep tersebut mengintegrasikan pengelolaan air, mekanisasi, intensifikasi produksi dan teknologi adaptif untuk membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan mampu menghadapi perubahan kondisi iklim.
Dengan pemetaan sumber air yang lebih terukur dan dukungan infrastruktur irigasi yang sesuai, pemerintah berharap lahan pertanian di Kecamatan Sambutan tetap produktif meski menghadapi tekanan kekeringan. (A3)








