Ketua Umum GAPKI Eddy Martono saat memaparkan peran strategis industri kelapa sawit Indonesia dalam mendukung kemitraan ekonomi Indonesia–Pakistan di Indonesia Palm Oil Networking Reception di Karachi, Jumat 9 Januari 2026. Foto: GAPKI/Agricom
AGRICOM, KARACHI — Indonesia dan Pakistan mempertegas kemitraan strategis di sektor kelapa sawit melalui penyelenggaraan The Indonesia Palm Oil Networking Reception di Karachi. Kegiatan yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Karachi bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ini menjadi momentum penting dalam peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Pakistan, sekaligus menindaklanjuti hasil Kunjungan Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Islamabad pada Desember 2025.
Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi dan pemangku kepentingan, antara lain Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri, Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan, Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, serta jajaran Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Hadir pula perwakilan importir minyak nabati Pakistan, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, serta asosiasi industri terkait.
BACA JUGA:
- GAPKI Perluas Kemitraan Global, Teken Enam MoU Strategis di AS dan Eropa
- GAPKI: Produksi Sawit Anjlok 22%, Ekspor Turun Tajam di September 2025
Duta Besar Chandra W. Sukotjo menegaskan bahwa hubungan Indonesia–Pakistan kini memasuki fase baru yang lebih strategis dan berorientasi masa depan. Menurutnya, industri kelapa sawit menjadi salah satu pilar utama hubungan ekonomi kedua negara.
“Pertemuan ini menjadi wadah untuk menegaskan kemitraan yang telah terbangun, memperkuat kepercayaan, serta menjajaki peluang baru menuju kerja sama ekonomi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan,” ujar Sukotjo.
Ia menambahkan, Indonesia berkomitmen mendorong hubungan dagang yang lebih berimbang, termasuk dengan meningkatkan impor dari Pakistan serta mengembangkan penciptaan nilai bersama di luar perdagangan yang bersifat transaksional. Karachi, sebagai pusat ekonomi Pakistan, dinilai sebagai mitra alami Indonesia dalam memperluas jejaring ekonomi di Asia Selatan.
BACA JUGA:
- Mentan Amran Beri Apresiasi kepada GAPKI atas Dukungan Donasi Bencana Sumatera
- IPOC 2025: Biodiesel dan Kepastian Hukum, Kunci Ketahanan Energi dan Stabilitas Sawit Nasional
Sementara itu, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menegaskan peran GAPKI sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya KJRI Karachi dan Kementerian Perdagangan, dalam memperkuat hubungan bilateral melalui sektor sawit. GAPKI, kata dia, berkomitmen menyediakan informasi yang akurat mengenai praktik industri kelapa sawit Indonesia sekaligus memastikan pasokan yang stabil dan bertanggung jawab bagi pasar Pakistan.
“Pakistan merupakan salah satu importir minyak sawit terbesar di dunia. GAPKI memastikan Indonesia tetap menjadi pemasok yang andal, sekaligus memfasilitasi kontrak dagang langsung antara produsen Indonesia dan pembeli Pakistan,” ujarnya.
Selain menjamin ketersediaan pasokan untuk kebutuhan pangan dan industri, GAPKI juga mendorong kolaborasi teknis, termasuk di bidang pengolahan dan refinery. Di sisi lain, GAPKI berperan sebagai wadah aspirasi pelaku usaha untuk mendukung perumusan kebijakan ekspor yang meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, termasuk Pakistan.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri kembali menegaskan pentingnya Pakistan sebagai mitra strategis Indonesia.
“Pakistan penting bagi Indonesia. Pasar Pakistan, industri Pakistan, dan konsumen Pakistan sangat penting bagi kami,” tegasnya.
Secara historis, hubungan dagang kedua negara telah terjalin erat, terutama di sektor kelapa sawit. Pakistan tercatat sebagai tujuan ekspor terbesar ketiga minyak sawit Indonesia dari lebih 150 negara. Berdasarkan Oil World 2025, ekspor sawit Indonesia ke Pakistan terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan lonjakan signifikan pada 2024 yang menembus lebih dari 3 juta ton.
Data yang disampaikan Chairman Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) Abdul Rasheed JanMohammad juga menunjukkan bahwa Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak sawit Pakistan, memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra utama negara tersebut.
Wamendag Dyah Roro menambahkan, Indonesia juga berkomitmen menciptakan hubungan dagang yang lebih seimbang dengan membuka peluang lebih luas bagi produk unggulan Pakistan, mulai dari sektor pertanian hingga layanan digital.
Sebagai langkah konkret, dalam kesempatan ini dilakukan penandatanganan tiga dokumen penting, yakni Nota Kesepahaman pembentukan Komisi Perdagangan Bersama Indonesia–Pakistan, serta dua MoU kerja sama antara GAPKI dengan PEORA dan Pakistan Vegetable Manufacturers Association (PVMA).
MoU pembentukan Komisi Perdagangan Bersama ditandatangani Wakil Menteri Perdagangan RI dan Menteri Perdagangan Pakistan. Komisi ini diharapkan menjadi forum resmi untuk mengelola hubungan ekonomi bilateral secara berkelanjutan, mengatasi hambatan perdagangan, serta membuka peluang baru ekspor-impor.
Sementara itu, penandatanganan MoU antara GAPKI, PEORA, dan PVMA bertujuan memperkuat rantai pasok serta menjaga stabilitas harga minyak sawit di kedua negara, sekaligus mendorong kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. (A3)