GAPKI bekerja sama dengan PPKS menggelar short course manajemen perkebunan sawit selama dua bulan bagi delegasi Tanzania sebagai upaya memperkuat kerja sama internasional dan pengembangan industri sawit berkelanjutan. Foto: GAPKI/Agricom
AGRICOM, SUMUT – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) resmi menggelar Short Course of Oil Palm Plantation Management, sebuah program pelatihan terpadu yang mengombinasikan pembelajaran di kelas dengan praktik lapangan. Program berdurasi dua bulan ini diikuti 13 perwakilan dari Tanzania Agricultural Research Institute (TARI) dan Tanzania Plant Health and Pesticides Authority (TPHPA).
Kegiatan pembukaan berlangsung di Sumatera Utara dan dihadiri Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia GAPKI sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Indra Syahputra. Dalam sambutannya, Indra menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh delegasi Tanzania.
“Kolaborasi ini merupakan bentuk kerja sama yang sangat positif dan strategis, baik bagi Indonesia maupun Tanzania,” ujar Indra, dalam keterangan tertulis yang diterima Agricom.id, Rabu (14/1).
BACA JUGA:
- Lewat Palm Oil Networking Reception, Indonesia–Pakistan Masuki Babak Baru Kemitraan Strategis
- Menko Airlangga: Program Biodiesel 2026 Bertahan di B40, Transisi ke B50 Dimatangkan
Melalui program ini, peserta akan memperoleh pemahaman menyeluruh tentang pengelolaan perkebunan kelapa sawit, mulai dari aspek pembibitan hingga praktik budidaya di lapangan. Peserta juga berkesempatan meninjau langsung pengembangan material tanaman asal Tanzania yang saat ini telah dibudidayakan di Indonesia.
Indra menegaskan, kegiatan ini tidak hanya dirancang sebagai pelatihan teknis, tetapi juga sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan sumber daya genetik antarnegara. Salah satu wujud konkret kolaborasi tersebut adalah introduksi tiga spesies serangga penyerbuk Elaeidobius asal Tanzania yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas sawit nasional.
“Program pemuliaan sawit Indonesia telah menghasilkan banyak material unggul dengan dominasi bunga betina. Ini penting bagi produksi, namun tanpa keseimbangan bunga jantan dan populasi serangga penyerbuk yang memadai, produktivitas bisa terganggu. Karena itu, kolaborasi ini sangat bermanfaat,” jelasnya.
BACA JUGA:
- GAPKI Perluas Kemitraan Global, Teken Enam MoU Strategis di AS dan Eropa
- Harga TBS Sawit Sumsel Awal Januari 2026 Menguat, Sentuh Rp 3.408,40 per Kg
Di sisi lain, Tanzania saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan industri kelapa sawit. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui transfer pengetahuan dan pengalaman Indonesia dalam membangun industri sawit secara terintegrasi.
“Bagi Tanzania, short course ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat positif. Peserta dapat melihat langsung bagaimana industri sawit Indonesia tumbuh melalui praktik yang dijalankan anggota GAPKI. Kami berharap ini menjadi fondasi bagi pengembangan industri sawit Tanzania ke depan,” tambah Indra.
Selama program berlangsung, peserta TARI dan TPHPA akan mendapatkan pembekalan materi komprehensif serta terlibat langsung dalam kegiatan di perkebunan dan fasilitas riset. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman mendalam mengenai penerapan teknologi, riset, dan manajemen perkebunan kelapa sawit.
Program ini ditargetkan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis peserta, tetapi juga memperkuat kerja sama riset dan pengembangan sawit antara Indonesia dan Tanzania. Menutup sambutannya, Indra menegaskan komitmen GAPKI untuk terus mendorong kolaborasi internasional yang saling menguntungkan.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat membangun kolaborasi jangka panjang. GAPKI siap bekerja bersama dan mendukung pengembangan industri kelapa sawit Tanzania ke depan,” tegasnya. (A3)