Harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun pada Kamis (15/1/2026), tertekan pelemahan minyak nabati global dan koreksi harga minyak mentah dunia. Foto:
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia kembali melanjutkan tren pelemahan pada Kamis (15/1/2026), mencatat penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Tekanan pasar datang dari melemahnya harga minyak nabati pesaing di pasar global, seiring turunnya harga minyak mentah dunia yang turut membebani sentimen komoditas.
Pelemahan harga CPO juga dipengaruhi faktor kebijakan dari Indonesia sebagai produsen utama. Keputusan pemerintah untuk mempertahankan program biodiesel B40, sekaligus membatalkan rencana penerapan B50 tahun ini, dinilai meredam ekspektasi peningkatan permintaan domestik minyak sawit, seperti dikutip dari Reuters.
BACA JUGA:
- Pasar Minyak Nabati Menguat, Harga CPO Malaysia Rebound
- Harga CPO KPBN Inacom Rabu (14/1) Berakhir WD di Semua Lokasi
Di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret 2026 tercatat turun RM23 per ton atau 0,57% ke level RM4.017 per ton pada jeda perdagangan tengah hari. Pergerakan ini memperpanjang fase koreksi pasar, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah.
Pelaku pasar saat ini juga mencermati rilis data ekspor terbaru. Laporan survei pengapalan dari perusahaan pemeriksa kargo untuk periode 1–15 Januari dijadwalkan terbit dalam waktu dekat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi katalis penting yang menentukan arah pergerakan harga CPO berikutnya.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Kamis (15/1) Naik lagi, Tembus Rp 31.090 per Kg
Tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Di pasar Tiongkok, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melemah 0,55%, sementara kontrak minyak sawit Dalian terkoreksi lebih dalam hingga 2,19%. Dari Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago juga turun 1,06%, mempertegas pelemahan sentimen di pasar minyak nabati global.
Kombinasi faktor makro, pergerakan energi, serta kebijakan negara produsen utama membuat pasar CPO masih berada dalam bayang-bayang tekanan, dengan pelaku industri menanti sinyal baru dari data ekspor dan perkembangan permintaan global. (A3)