Indonesia–Pakistan Perkuat Jalur Logistik Sawit, Wamendag Roro Dorong Efisiensi Pelabuhan Qasim

Indonesia–Pakistan Perkuat Jalur Logistik Sawit, Wamendag Roro Dorong Efisiensi Pelabuhan Qasim
Agricom.id

19 January 2026 , 09:15 WIB

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri membahas penguatan jalur pengiriman minyak sawit Indonesia ke Pakistan melalui Pelabuhan Qasim di Karachi, sekaligus mendorong efisiensi logistik dan perluasan kerja sama perdagangan bilateral.

AGRICOM, KARACHI — Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri menggelar pertemuan dengan sejumlah importir produk Indonesia di Karachi, Pakistan, guna membahas penguatan jalur pengiriman produk ekspor, khususnya minyak sawit, melalui Pelabuhan Qasim. Pertemuan tersebut berlangsung Jumat (9/1) dan menempatkan aspek logistik sebagai fokus utama dalam menjaga kelancaran rantai pasok sawit Indonesia ke pasar Pakistan.

Pelabuhan Qasim selama ini dikenal sebagai pelabuhan utama sekaligus simpul impor minyak nabati Pakistan. Posisi strategis pelabuhan ini menjadikannya titik krusial dalam arus masuk crude palm oil (CPO) dan produk turunan sawit dari Indonesia.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (15/1) Turun Rp 101, Tertinggi Rp 14.355 Per Kg

Dalam pertemuan tersebut, Wamendag Roro menyampaikan apresiasi atas peran Pelabuhan Qasim yang dinilai vital dalam menopang stabilitas pasokan sawit Indonesia. Ia menegaskan bahwa Pakistan merupakan mitra dagang penting bagi Indonesia, tidak hanya untuk komoditas kelapa sawit, tetapi juga untuk pengembangan kerja sama perdagangan yang lebih luas.

“Indonesia memandang Pakistan sebagai mitra strategis dalam perdagangan minyak sawit. Ke depan, kami berharap kerja sama ini terus tumbuh dan diperluas, termasuk untuk produk-produk potensial lainnya yang saling menguntungkan,” ujar Roro.

Ia menambahkan, penguatan konektivitas logistik akan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Pakistan sekaligus memperkokoh hubungan dagang bilateral.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Tertekan Tiga Hari Berturut-turut, Pasar Dibayangi Koreksi Global dan Kebijakan Biodiesel

 

Dorong Efisiensi Logistik dan Infrastruktur Pelabuhan

Senada dengan hal tersebut, CEO Westbury Group sekaligus CEO Mapak Edible Oils, Abdul Rasheed Janmohammed, menekankan pentingnya Pelabuhan Qasim sebagai tulang punggung impor sawit Pakistan. Menurutnya, peningkatan volume perdagangan ke depan harus diiringi dengan penguatan rantai pasok, mulai dari efisiensi logistik, penyederhanaan perizinan, hingga pengembangan fasilitas penyimpanan di pelabuhan.

“Penguatan infrastruktur dan sistem logistik akan membuat pasokan sawit Indonesia lebih cepat, stabil, dan kompetitif dibandingkan negara pemasok lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Rehabilitasi Sawah Pascabencana Dimulai, Pemerintah Garap 98 Ribu Hektare Lahan Rusak di Sumatera

Sebagai salah satu importir utama sawit Indonesia di Pakistan, Westbury Group juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan. Abdul menyebutkan, perusahaan telah mendukung pendirian rumah sakit dan fasilitas penitipan anak di kawasan Pelabuhan Qasim untuk menunjang layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menanggapi hal itu, Wamendag Roro melihat peluang pengembangan perdagangan jasa, khususnya di bidang layanan kesehatan. Menurutnya, keterlibatan tenaga profesional Indonesia seperti dokter dan perawat dapat membuka babak baru kerja sama bilateral yang tidak hanya bertumpu pada perdagangan barang.

Dalam agenda tersebut, Wamendag Roro turut didampingi Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, serta Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir.

 

Perkuat Peran Sektor Swasta Indonesia–Pakistan

Masih di hari yang sama, Wamendag Roro melanjutkan rangkaian kegiatan dengan bertemu Presiden Federasi Kamar Dagang dan Industri Pakistan (FPCCI) Atif Ikram serta Ketua Komite Bilateral Pakistan KADIN Indonesia Mufti Hamka Hasan. Pertemuan tersebut membahas tindak lanjut nota kesepahaman antara KADIN Indonesia dan FPCCI yang ditandatangani pada Desember 2025 saat kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Pakistan.

FPCCI menyatakan komitmennya untuk segera merealisasikan implementasi kerja sama sektor swasta pada 2026. Salah satu inisiatif yang diusulkan adalah peluang investasi Pakistan dalam penyediaan produk susu untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan pemerintah Indonesia. Sejalan dengan itu, perusahaan Pakistan Malmo Pvt. Limited menyampaikan minat untuk menjajaki kemitraan dengan pelaku usaha Indonesia di sektor pengolahan pangan dan minuman.

Wamendag Roro menyambut positif berbagai inisiatif tersebut. Ia mendorong pembentukan kelompok kerja bersama, penyelenggaraan business matching secara berkala, serta penguatan pertukaran informasi perdagangan dan investasi antara kedua negara.

“Kami mendorong tindak lanjut konkret MoU melalui pembentukan joint working group dan penjajakan kerja sama bisnis yang terstruktur. FPCCI dan KADIN Indonesia diharapkan terus berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan pelaku usaha,” ujarnya.

Roro menegaskan kembali bahwa Pakistan merupakan mitra dagang jangka panjang yang strategis bagi Indonesia, terutama di sektor kelapa sawit dan industri berbasis agro.

Sementara itu, Presiden FPCCI Atif Ikram menilai masih terbuka ruang besar untuk memperluas kerja sama bisnis Indonesia–Pakistan, termasuk di sektor tekstil, farmasi, makanan dan minuman, manufaktur, hilirisasi, serta perdagangan digital UMKM. Ketua Komite Bilateral Pakistan KADIN Indonesia Mufti Hamka Hasan pun menegaskan kesiapan KADIN Indonesia untuk mengawal implementasi MoU agar segera menghasilkan kerja sama konkret di lapangan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP