Harga CPO Bursa Malaysia Melemah, Aki Ambil Untung Tekan Pasar

Harga CPO Bursa Malaysia Melemah, Aki Ambil Untung Tekan Pasar
Agricom.id

24 January 2026 , 22:58 WIB

Harga CPO di Bursa Malaysia turun pada Jumat (23/1/2026) seiring aksi ambil untung dan penguatan ringgit, meski masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan ketiga. Foto: Agricom

 

AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Tekanan datang dari aksi ambil untung investor setelah reli beberapa hari terakhir, ditambah penguatan nilai tukar ringgit yang mengurangi daya saing ekspor.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM30 per ton atau 0,71% ke level RM4.167 per ton pada jeda perdagangan siang. Meski terkoreksi secara harian, harga CPO masih berada di jalur positif dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 2,6%, yang akan menjadi penguatan tiga pekan berturut-turut, seperti dikutip dari Reuters.

BACA JUGA: 

- Harga CPO Malaysia Naik, Pasar Respon Prospek Biodiesel AS dan Penurunan Produksi

Harga CPO KPBN Inacom Kamis (22/1) Naik lagi, Tertinggi Rp 14.825 per Kg

Pelaku pasar menilai pelemahan kali ini lebih bersifat teknikal, seiring investor merealisasikan keuntungan setelah harga bergerak naik dalam beberapa sesi sebelumnya. Di sisi lain, penguatan ringgit turut menekan pasar karena membuat harga CPO Malaysia relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Sementara itu, pergerakan harga minyak nabati global cenderung terbatas. Di Bursa Dalian, China, kontrak soyoil paling aktif tercatat naik tipis 0,07%, sedangkan kontrak minyak sawitnya turun 0,04%. Di Amerika Serikat, harga soyoil di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,07%, mencerminkan sikap hati-hati pasar menjelang akhir pekan.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Jumat (23/1) Naik Lagi, Tertinggi Rp 30.542 per Kg

Meski volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi, pelaku industri menilai tren CPO secara keseluruhan masih relatif konstruktif, didukung ekspektasi permintaan yang stabil serta prospek pasokan yang tetap ketat di kawasan produsen utama. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP