Mentan Amran Rangkul Purnabakti Kementan, Jadikan Pengalaman Senior Pilar Transformasi Pertanian

Mentan Amran Rangkul Purnabakti Kementan, Jadikan Pengalaman Senior Pilar Transformasi Pertanian
Agricom.id

27 January 2026 , 12:56 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan peran strategis purnabakti Kementan sebagai aset bangsa dalam mengawal transformasi dan pembangunan pertanian nasional. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya melibatkan purnabakti Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai bagian penting dalam memperkuat pembangunan pertanian nasional. Ia menilai, pengalaman panjang dan keahlian para senior Kementan merupakan aset strategis bangsa yang tidak tergantikan dalam mengawal transformasi sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Menurut Mentan Amran, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan inovasi dan generasi baru, tetapi juga harus ditopang kebijaksanaan, ketajaman analisis, serta pengalaman lapangan para purnabakti yang telah puluhan tahun bergelut di sektor ini.

“Negara sangat membutuhkan pemikiran, pengalaman, dan keahlian Bapak dan Ibu semua. Ilmu para purnabakti tidak bisa dibeli dan tidak tergantikan. Inilah kekuatan utama kita untuk membangun pertanian nasional,” ujar Mentan Amran saat pertemuan silaturahmi dengan purnabakti Kementan di Kalibata, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

BACA JUGA: 

- Swasembada Beras hingga Pangkas Regulasi, Prabowo Paparkan Agenda Besar Pangan Indonesia di WEF Annual Meeting 2026

- Mentan Amran Perketat Pengawasan Pangan Hewani, Harga DOC hingga Daging Sapi Diawasi Ketat

Pertemuan tersebut dihadiri para mantan Menteri Pertanian serta purnabakti pejabat eselon I, II, dan III dari berbagai periode kepemimpinan dan lintas bidang. Dalam forum itu, Mentan Amran menegaskan bahwa berbagai capaian sektor pertanian hari ini tidak lepas dari fondasi kuat yang dibangun para senior Kementan.

Ia menilai, keterlibatan purnabakti dalam bentuk pemberian masukan strategis, pendampingan teknis, hingga pengawalan kebijakan sangat penting untuk memastikan setiap program berjalan efektif, berkesinambungan, dan tepat sasaran.

“Pengalaman puluhan tahun para purnabakti adalah fondasi kuat bagi generasi penerus. Kami ingin membangun budaya kerja yang berkelanjutan, di mana para senior tetap berperan memberi arahan dan nasihat strategis,” tegasnya, iktip Agricom.id dari laman Kementan.

BACA JUGA: Said Didu Sebut Gebrakan Mentan Amran Bikin Negara Kembali Kuasai Pangan

Dalam kesempatan itu, Mentan Amran juga memaparkan arah kebijakan dan program kerja Kementan ke depan. Ia menyampaikan bahwa pembangunan pertanian saat ini tidak hanya berfokus pada pangan, tetapi juga diperluas ke sektor perkebunan, peternakan, dan subsektor lainnya, termasuk penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor.

“Penguatan pertanian kita arahkan dari hulu sampai hilir. Swasembada pangan harus berkelanjutan, sekaligus mampu mendorong peningkatan nilai tambah dan ekspor,” katanya.

Khusus sektor perkebunan, Mentan Amran menyebut Kementan tahun ini memprioritaskan pengembangan sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa, kopi, kakao, tebu, pala, serta berbagai komoditas strategis lainnya, seiring terbukanya peluang besar di pasar global.

Arah kebijakan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian periode 1998–2003, Justika Baharsjah. Ia menilai pertemuan antara Mentan Amran dan para purnabakti menjadi forum strategis untuk membaca posisi Indonesia saat ini sekaligus merumuskan langkah ke depan.

BACA JUGA: Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Inovasi dan Modernisasi Pertanian untuk Swasembada Berkelanjutan

“Pertemuan dengan Pak Amran sangat baik. Kita jadi tahu di mana posisi kita sekarang dan apa yang harus dilakukan agar pertanian ke depan semakin maju. Ini penting supaya kita tidak berjalan di tempat,” ujar Justika.

Ia juga menilai, di bawah kepemimpinan Mentan Amran, sektor pertanian menunjukkan kemajuan yang semakin terarah dan bahkan memperoleh pengakuan positif dari berbagai pihak, termasuk di tingkat internasional.

“Kemajuan pertanian di bawah Pak Amran sangat baik dan diakui banyak pihak. Saya mengapresiasi upaya beliau yang terus mendorong kemajuan dan tidak berhenti pada capaian yang ada,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian periode 2004–2009, Anton Apriyantono, menilai berbagai capaian sektor pertanian saat ini merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Namun ia mengingatkan pentingnya fokus kebijakan yang lebih spesifik, terutama dalam mewujudkan swasembada beras yang berkelanjutan.

“Banyak capaian positif yang diraih, dan itu membanggakan. Tetapi ke depan, arah kebijakan perlu semakin spesifik, misalnya dalam konteks swasembada beras, agar targetnya jelas dan terukur,” kata Anton.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan strategi jangka panjang yang memperhitungkan risiko perubahan iklim dan dinamika alam, agar keberhasilan tidak bersifat sesaat.

“Ketika bicara swasembada, yang terpenting adalah kesinambungannya. Kita bisa belajar dari kisah Nabi Yusuf tentang tujuh tahun masa subur dan tujuh tahun masa paceklik. Ini pengingat agar keberhasilan hari ini tetap terjaga di masa depan,” tuturnya.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Kementerian Pertanian dan para purnabakti sebagai mitra strategis dalam mengawal agenda besar pembangunan pertanian nasional, menjaga ketahanan pangan, serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu produsen pangan utama dunia. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP