Dari Jakarta ke Kebun Kopi: Perjalanan Diva Tanzil Menguatkan Petani Lewat Stronger Coffee Initiative


Agricom.id, JAKARTA – Tentu saja jadwal Chintara Diva Tanzil dipastikan padat. Dari ruang rapat di Jakarta, langkahnya segera berlanjut ke kebun-kebun kopi di Sumatera. Sejak bergabung dengan Louis Dreyfus Company (LDC) pada 2023, ia memimpin strategi dan implementasi Stronger Coffee Initiative (SCI) untuk kawasan Asia—sebuah program yang bukan sekadar soal kopi, tetapi tentang perubahan cara bertani dan membangun masa depan.

Sebagai Regional Manager Stronger Coffee Initiative Asia, Diva membawa bekal pendidikan Master’s di bidang Sustainable Finance dan gelar Bachelor’s di Business Management. Namun baginya, pelajaran paling berharga justru datang dari kebun, dari percakapan dengan petani, dan dari perjalanan panjang menyusuri rantai pasok kopi Indonesia.

BACA JUGA: Cirebon Siap Jadi Hub Pemasaran Kopi Gunung Ciremai

 

Memilih Petani yang Siap Berubah

Di Indonesia, sebagian besar petani kopi mengelola lahan rata-rata sekitar dua hektare. Potensinya besar, tetapi produktivitasnya masih tertinggal dibandingkan negara seperti Vietnam. “Sayang sekali, lahannya mirip, tetapi jumlah pohon dan produktivitasnya berbeda jauh,” ungkap Diva dalam perbincangan dengan Agricom.id, Kamis (12/2/2026).

Melalui Stronger Coffee Initiative, LDC melakukan investasi langsung di tingkat kebun. Namun tidak semua petani otomatis masuk program. Ada proses seleksi berbasis willingness—kemauan untuk berubah dan berjalan bersama menuju praktik regenerative agriculture.

Petani yang bergabung bukan hanya anggota kelompok, tetapi bagian dari rantai pasok LDC. Mereka didampingi secara intensif oleh tim lapangan, termasuk para agronom teknis yang bertanggung jawab membina sejumlah petani aktif di wilayahnya.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Rabu (11/2) Naik Tipis, Tertinggi Rp14.388 Per Kg

Pendampingan itu berlangsung di berbagai sentra kopi, seperti Tanggamus, Lampung Barat, Lampung Utara, hingga ke Muara Dua Kisam, Sungai Are, Lahat, dan Pagar Alam di Sumatera Selatan. Dari kebun hingga kolektor, rantai pasok dijaga agar tetap terhubung dan berkelanjutan.

 

Dari Pemangkasan hingga Fermentasi

Perubahan tidak selalu mudah. Ada petani yang tradisionalis, ada pula yang visioner dan pragmatis. Tantangan terbesar adalah meyakinkan bahwa pelatihan—mulai dari teknik pemangkasan, penyambungan, hingga fermentasi—akan berdampak nyata pada pendapatan mereka.

“Kalau hanya bicara kebun hijau atau praktik baru, mungkin hasilnya tidak langsung terlihat. Tetapi dari sisi pendapatan, perubahannya signifikan,” kata Diva.

BACA JUGA: Harga Karet SGX–Sicom Rabu (11/2) Naik Lagi, Tembus Rp 32.015 per Kg

Ia mencontohkan karakter petani Vietnam yang cenderung lebih entrepreneurial, dengan penguasaan teknik budidaya yang lebih maju. Namun ia percaya, dengan pendampingan konsisten dan pendekatan kolaboratif, petani Indonesia mampu mengejar ketertinggalan.

SCI pun tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dilakukan dengan pemerintah daerah, dinas terkait, hingga kelompok tani dan ketua kelompok setempat. Tujuannya jelas: memastikan transisi dari kebun dengan kondisi tanah kurang optimal menjadi kebun yang produktif dan regeneratif.

Regenerative agriculture adalah pendekatan holistik dalam bercocok tanam yang fokus memulihkan kesehatan tanah, ekosistem, dan keanekaragaman hayati.

 

Menjaga Investasi, Menjaga Harapan

Bagi LDC, investasi di kebun berarti menjaga kesinambungan pasokan sekaligus kesejahteraan petani. Program ini dirancang agar hubungan tidak terputus di tengah jalan. Dari satelit pemantauan hingga kunjungan lapangan rutin, semuanya dilakukan untuk memastikan perubahan benar-benar terjadi.

Secara global, kopi menjadi salah satu komoditas penting dalam portofolio LDC. Di Indonesia sendiri, jumlah petani yang dibina terus bertambah, menjadi fondasi penting dalam memenuhi permintaan pasar internasional.

Namun bagi Diva, angka bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah bagaimana kesenjangan pendapatan (living income gap) bisa dipersempit.

“Harapannya, dari desa dan pertanian, mereka bisa bertransisi pelan-pelan. Mungkin tidak langsung terlihat di awal, tetapi dalam jangka panjang, pendapatan dan kualitas hidup mereka jauh lebih baik,” tutupnya.

Dari Jakarta hingga pelosok kebun kopi Sumatera, perjalanan Diva Tanzil adalah kisah tentang keyakinan bahwa perubahan bisa tumbuh, seperti kopi yang dirawat dengan kesabaran—perlahan, tetapi pasti. (A2)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP