Foto: Agricom.id/Sejak 2015, LDC melalui Stronger Coffee Initiative telah menjangkau lebih dari 20.000 petani kopi di Sumatera, menanam 860.000 pohon agroforestri, serta mendorong praktik pertanian regeneratif untuk memperkuat kesehatan tanah, menekan emisi karbon, dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.
AGRICOM, JAKARTA - Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia menghadapi tantangan serius dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan lahan. Perubahan iklim, degradasi tanah, serta rendahnya regenerasi petani menjadi isu krusial yang membutuhkan pendekatan baru. Di tengah tantangan tersebut, praktik pertanian regeneratif mulai mengambil peran strategis dalam memperkuat daya tahan sektor kopi nasional.
Menurut Rajat Dutt, Country Head, Louis Dreyfus Company (LDC) Indonesia, program pertanian regeneratif ini merupakan kelanjutan komitmen LDC di Indonesia yang telah berjalan selama 25 tahun lebih. “Sebagai perusahaan penghasil produk pertanian global, perluasan praktik regeneratif menjadi strategi utama dalam memperkuat keberlanjutan di seluruh rantai pasok produk pertanian, seperti kopi, kapas, gula, minyak nabati dan jus jeruk premium,” ujarnya, dalam acara yang dihadiri Agricom.id, Kamis (12/2/2026).
Pendekatan regeneratif menempatkan petani sebagai pusat transformasi. Alih-alih sekadar meningkatkan produksi, program ini bertujuan memulihkan lanskap perkebunan bagi generasi petani masa kini dan mendatang.
Sejak 2015, LDC bekerja sama dengan petani kopi Indonesia untuk memperkenalkan dan memperluas penerapan praktik pertanian regeneratif. Pendekatan ini bertujuan memperkuat ketahanan lahan pertanian, memulihkan kesehatan tanah, serta mendukung produktivitas jangka panjang di tingkat kebun.
Inisiatif tersebut dijalankan melalui Stronger Coffee Initiative, sebuah program kolaboratif yang memanfaatkan pengalaman global, jaringan rantai pasok, serta keahlian teknis LDC dalam memperkuat komunitas kopi. Program ini tidak hanya menargetkan peningkatan hasil, tetapi juga mendorong sistem produksi yang lebih rendah karbon dan adaptif terhadap perubahan iklim.
“Stronger Coffee Initiative berfokus pada tiga pilar inti, yakni peningkatan kesejahteraan petani, produksi kopi rendah karbon, serta penerapan pertanian regeneratif untuk memperbaiki kualitas tanah,” ungkap Chintara Diva Tanzil, Country Program Manager, Stronger Coffee Initiative, LDC Indonesia.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–Sicom Naik 4 hari Beruntun, Sentuh Rp 32.015 per Kg Pada Kamis (12/2)
Di Indonesia, hingga akhir 2025, inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 20.000 petani kopi yang tersebar di Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh. Pendekatan yang digunakan mencakup pelatihan agronomi, pendampingan teknis langsung di kebun, serta penguatan kemitraan.
Model intervensi yang diterapkan bersifat terstruktur dan dapat diperluas, sehingga mampu diadopsi secara berkelanjutan di tingkat petani. Fokus utama diarahkan pada pemulihan kesehatan tanah, konservasi keanekaragaman hayati, serta stabilitas produksi jangka panjang.
Hal ini diamini Solihin, perwakilan petani kopi asal Lampung Utara. Setelah menerapkan praktik pertanian regeneratif, hasil panennya mulai meningkat. “Dengan luas lahan seperempat hektare, pada tahun 2024 menghasilkan sekitar 900 kilo, dan di tahun 2025 meningkat hingga 1,5 ton,” ungkapnya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Rabu (11/2) Naik Tipis, Tertinggi Rp14.388 Per Kg
Agroforestri dan Regenerasi Lahan
Salah satu praktik kunci yang dikembangkan adalah agroforestri, yaitu sistem budidaya yang mengintegrasikan tanaman kopi dengan pohon penaung dan tanaman lainnya. Sejak 2015, sebanyak 860.000 pohon telah ditanam untuk mendukung kegiatan agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati.
Pendekatan ini memberikan manfaat ganda. Selain meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga kelembapan, keberadaan pohon penaung juga membantu menurunkan suhu mikro di kebun, memperbaiki struktur tanah, serta menyerap karbon. Bagi petani, sistem ini turut membuka peluang diversifikasi pendapatan dari hasil tanaman tambahan.
Sekolah Lapang dan Peran Generasi Muda
Penguatan kapasitas petani dilakukan melalui Sekolah Lapang Petani (Farmer Field Schools) yang inklusif gender. Program ini memastikan perempuan petani mendapatkan akses yang sama terhadap pelatihan dan peningkatan keterampilan.
Lebih lanjut, LDC meluncurkan dan menguji coba Farmer Assistance and Support Team (FAST) pada 2025. Tim ini dipimpin oleh generasi muda dan berperan sebagai pendamping teknis langsung di lapangan. FAST membantu petani menerapkan praktik yang telah dipelajari, mulai dari pengelolaan tanah hingga efisiensi input produksi.
Pada tahap uji coba, FAST telah mendukung 190 kebun kopi di lahan seluas 285 hektare. Hasil awal menunjukkan 52% petani yang terlibat berkomitmen untuk menghentikan penggunaan herbisida kimia, langkah penting menuju sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi.
Pendampingan teknis ini tidak hanya meningkatkan praktik budidaya, tetapi juga berdampak pada produktivitas dan pendapatan petani melalui penerapan teknik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Ke depan, penguatan ekosistem kopi melalui praktik regeneratif menjadi langkah strategis untuk menjaga posisi Indonesia di pasar global. Dengan kombinasi inovasi, kolaborasi, dan pendampingan berkelanjutan, sektor kopi nasional memiliki peluang besar untuk tumbuh secara produktif sekaligus berkelanjutan. (A3)