Kementan Perkuat Strategi Mitigasi Kekeringan, Jaga Produktivitas Perkebunan Nasional

Kementan Perkuat Strategi Mitigasi Kekeringan, Jaga Produktivitas Perkebunan Nasional
Agricom.id

21 March 2026 , 14:33 WIB

Melalui kebun percontohan ini, pekebun dilatih menerapkan teknik hemat air, mengelola kebun saat kemarau, hingga memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak musim kemarau terhadap sektor perkebunan nasional. Upaya ini difokuskan untuk menjaga stabilitas produksi berbagai komoditas strategis di tengah ancaman cuaca kering yang kian tidak menentu.

Sejumlah komoditas utama seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu dinilai rentan terdampak apabila kekeringan tidak diantisipasi sejak dini. Karena itu, melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, pemerintah terus mendorong strategi adaptasi agar subsektor perkebunan tetap tangguh.

BACA JUGA: Panen Raya Majalengka Tembus 11,5 Ton/Ha, Perkuat Stok Beras Nasional 2026

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan mitigasi dilakukan melalui pendekatan budidaya adaptif. Langkah tersebut mencakup penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, peningkatan efisiensi pengelolaan air, serta pendampingan intensif kepada pekebun.

“Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujarnya, dikutip Agricom.id dari laman resmi Kementan, Sabtu (21/3).

Upaya tersebut dilakukan melalui penggunaan varietas tahan kekeringan, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan kebun yang lebih efisien dalam penggunaan air. Pendampingan juga ditingkatkan untuk membantu pekebun menghadapi potensi serangan hama dan penyakit yang meningkat saat musim kemarau.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Naik Tipis di Awal Maret 2026, Tertinggi Rp 3.266/Kg

Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan pentingnya pengelolaan kebun yang adaptif.

“Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” katanya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim. Melalui kebun percontohan ini, pekebun dilatih menerapkan teknik hemat air, mengelola kebun saat kemarau, hingga memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II Maret 2026 Naik Menjadi Rp3.450,92 per Kg

Penguatan tata kelola air juga dilakukan, termasuk di lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah. Selain itu, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan guna mencegah kebakaran yang rawan terjadi saat musim kemarau.

Kesiapsiagaan turut diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api.

Di tingkat lapangan, pekebun diimbau menerapkan langkah adaptif seperti penggunaan pupuk organik, efisiensi pemupukan, serta pemantauan kondisi tanaman secara rutin. Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga dianjurkan untuk menyimpan cadangan air.

Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap subsektor perkebunan tetap mampu bertahan dan berkembang meski menghadapi tekanan cuaca kemarau.

“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” ujar Roni.

Sementara itu, salah satu pekebun binaan mengaku berbagai pendampingan tersebut membantu dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, termasuk saat musim kemarau yang semakin panjang dan tidak menentu.

“Bagi kami, kebun adalah masa depan. Saat kemarau datang lebih lama, kami harus lebih pintar mengatur pola tanam dan menjaga ketersediaan air. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia,” ujarnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP