AGRICOM, JAKARTA – Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kepentingan nasional sekaligus mendorong reformasi sistem perdagangan global dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang berlangsung pada 26–29 Maret 2026 di Yaoundé, Kamerun.
Dalam forum strategis tersebut, Indonesia membawa sejumlah agenda prioritas guna memastikan sistem perdagangan multilateral tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menekankan bahwa reformasi WTO harus memperkuat sistem perdagangan global tanpa mengesampingkan prinsip dasar organisasi, termasuk mekanisme pengambilan keputusan berbasis konsensus serta perlakuan khusus dan berbeda bagi negara berkembang.
BACA JUGA: Stok Bahan Pokok Aman dan Harga Stabil di Pasar Minggu Pasca Lebaran
“Reformasi WTO dapat memperkuat sistem dan menjaga prinsip dasar, termasuk pengambilan keputusan secara konsensus serta perlakuan khusus dan berbeda bagi negara berkembang. Indonesia juga akan terus mendorong agar sistem penyelesaian sengketa dapat segera dipulihkan demi kepastian hukum bagi seluruh anggota,” ujar Mendag Busan, dikutip Agricom.id dari laman resmi Kemendag, Minggu (29/3).
Sejumlah isu yang juga diperjuangkan Indonesia, antara lain, subsidi perikanan, pertanian, perdagangan berbasis elektronik, inkorporasi kesepakatan joint initiative, serta isu non-violation and situation complaints (NVSC). Agenda tersebut telah dikoordinasikan secara intensif dengan berbagai kementerian dan lembaga RI untuk memastikan posisi Indonesia kuat dalam perundingan multilateral.
Indonesia juga akan melanjutkan keterlibatan aktif dalam negosiasi ketentuan tambahan pada Agreement on Fisheries Subsidies (AFS) serta perundingan sektor pertanian yang menyoroti pentingnya ketahanan pangan, termasuk kebijakan cadangan pangan pemerintah. Hal ini mengingat tantangan ke depan salah satunya adalah perubahan iklim yang akan mengubah produksi pangan dunia. Indonesia menilai aturan global di sektor tersebut harus memberikan ruang yang adil bagi negara berkembang dalam menjaga stabilitas pangan domestik.
BACA JUGA: Sultra Genjot Ekspor Non-Tambang, Pertanian dan Perikanan Jadi Andalan Baru
“Indonesia selalu memperjuangkan dukungan terhadap petani dan nelayan kecil dalam isu perundingan pertanian dan subsidi perikanan, utamanya agar tercipta aturan yang adil, efektif, dan berkelanjutan,” tegas Mendag Busan.
Dalam isu perdagangan digital, Indonesia menekankan pentingnya pembahasan komprehensif terkait masa depan moratorium bea masuk atas transmisi elektronik atau Customs Duties on Electronic Transmission (CDET) serta kelanjutan Work Programme on E-Commerce di WTO. Mendag Busan berpandangan, setiap kebijakan global di bidang niaga elektronik (e-commerce) harus mempertimbangkan kesenjangan digital serta kebutuhan pembangunan negara berkembang.
“Indonesia meyakini setiap keputusan terkait e-commerce perlu mempertimbangkan aspek pembangunan dan kesenjangan digital, khususnya bagi negara berkembang,” kata Mendag Busan.
BACA JUGA: WFP Sebut Krisis Pangan Global Mengintai 45 Juta Orang, Indonesia Justru Surplus Beras
Delegasi Indonesia dalam forum WTO tersebut akan dipimpin Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan RI Johni Martha. Selain menghadiri sidang utama, delegasi Indonesia dijadwalkan mengikuti sejumlah pertemuan tingkat menteri, pertemuan koordinasi kelompok negara berkembang, pertemuan bilateral, serta berbagai agenda pendukung lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan perdagangan internasional. (A3)