Teknologi AWD Hemat Air 20%, Strategi Kementan Jaga Produksi Padi Saat Kemarau

Teknologi AWD Hemat Air 20%, Strategi Kementan Jaga Produksi Padi Saat Kemarau
Agricom.id

30 March 2026 , 07:04 WIB

Metode Alternate Wetting and Drying (AWD) menjadi solusi efisiensi air irigasi hingga 20% sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah ancaman kekeringan. Foto: Kementan

 

AGRICOM, JAKARTA – Ketidakpastian musim kemarau mendorong pemerintah memperkuat strategi efisiensi air di sektor pertanian. Kementerian Pertanian (Kementan) kini mengakselerasi penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) sebagai solusi pengelolaan air sawah yang lebih hemat dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Teknologi ini terbukti mampu menekan penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengorbankan produktivitas padi. Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan air, sekaligus sebagai bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di sektor pangan.

BACA JUGA: Panen Raya Maret 2026, Kementan Pastikan Stok Beras Nasional Aman dan Harga Tetap Stabil

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian nasional. Menurutnya, efisiensi penggunaan air tidak hanya menekan risiko kekeringan, tetapi juga memastikan stabilitas hasil panen.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, khususnya saat musim kemarau.

BACA JUGA: Stok Bahan Pokok Aman dan Harga Stabil di Pasar Minggu Pasca Lebaran

“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3).

Fadjry menambahkan bahwa AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009, dan mulai diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%.” ucapnya.

BACA JUGA: Indonesia Siap Perjuangkan dan Dorong Reformasi WTO dan Perdagangan Adil di KTM ke-14 Kamerun

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan AWD mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan tanpa menurunkan produktivitas padi. Dalam kondisi tertentu, efisiensi ini bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lainnya.

“Selain itu, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.” lanjut Fadjry.

Ali Pramono, analis dari BRMP Lingkungan Pertanian, menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali.

BACA JUGA: Sultra Genjot Ekspor Non-Tambang, Pertanian dan Perikanan Jadi Andalan Baru

“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhana.” tuturnya.

Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses, dekat pematang, agar memudahkan pemantauan kedalaman air yang mewakili kondisi rata-rata lahan.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah.” tambah Ali.

Siklus ini dilakukan secara berulang, dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting-berbunga.

Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi.” tutupnya.

Penerapan AWD menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP