Kementan Jaga Harga Kedelai Stabil, Pelaku Usaha Sepakati HAP Rp11.500/Kg

Kementan Jaga Harga Kedelai Stabil, Pelaku Usaha Sepakati HAP Rp11.500/Kg
Agricom.id

12 April 2026 , 15:51 WIB

Pemerintah bersama pelaku usaha memastikan harga kedelai tetap stabil di tengah tekanan global, dengan acuan harga Rp11.500 per kg di tingkat importir. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah stabilisasi harga kedelai dengan memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu-tempe terkait penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir.

Kesepakatan ini menjadi pijakan penting untuk menjaga harga kedelai di tingkat pengrajin tetap terkendali, yakni di bawah Rp12.000 per kilogram, setidaknya hingga adanya penyesuaian kebijakan lebih lanjut. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pangan berbasis kedelai di tengah tekanan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok.

BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Siap Uji Coba Serangga Penyerbuk Tanzania untuk Dongkrak Produktivitas Sawit

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan bersama asosiasi dan pelaku usaha pada Kamis (9/4), sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk menjaga ketersediaan pasokan kedelai sebagai bahan baku industri tahu dan tempe.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro menegaskan bahwa isu yang berkembang di masyarakat telah terverifikasi dan tidak benar, serta memastikan komitmen bersama seluruh pihak tetap terjaga.

“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500,” tegas Yudi, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (12/4).

BACA JUGA: Akhir Pekan Stabil, Harga Karet SGX-SICOM Jumat (10/4) Naik Tipis ke Rp34.963/Kg

Ia memastikan kondisi pasokan dan harga saat ini masih terkendali. “Persediaan masih cukup, harga juga masih terkendali sesuai dengan acuan pemerintah. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.

Yudi menjelaskan bahwa dinamika global memang memberikan tekanan, terutama pada biaya logistik, transportasi, hingga komponen penunjang lainnya.

“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali. Ini yang perlu kami sampaikan agar tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA: Harga CPO Global Tertekan, Tender KPBN Kembali Berujung Withdraw

Ia juga menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

“Kita sudah berkomitmen bersama untuk menjaga implementasi HAP di lapangan tetap berjalan. Ini penting agar stabilitas pangan tetap terjaga,” katanya.

Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang yang wajar dan sesuai dengan HAP.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Anjlok di Akhir Pekan, Tekanan Pasokan dan Lesunya Permintaan Hantam Pasar

Di Jakarta, rerata harga kedelai berada di kisaran Rp10.500–Rp11.000 per kg, Jawa Rp10.555 per kg, Bali dan NTB Rp10.550 per kg, Sumatra Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg. Angka ini masih berada di bawah HAP kedelai impor di tingkat konsumen (pengrajin tahu tempe) yang ditetapkan maksimal Rp12.000 per kg.

Dari sisi importir, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyampaikan bahwa harga dan pasokan kedelai masih dalam kondisi terkendali meskipun menghadapi tekanan global.

“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ujarnya.

BACA JUGA: Harga TBS Kalteng Periode II-Maret 2026 Naik, Usia 10–20 Tahun Capai Rp3.773/Kg

Ia menegaskan bahwa pelaku usaha terus berupaya menjaga stabilitas di tengah tantangan eksternal.

“Saat ini kami mencoba dengan sangat keras untuk menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai. Tapi perlu dicatat ada beberapa faktor seperti geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang,” ungkapnya.

Hen Sen menambahkan bahwa semua pihak harus terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga kedelai.

BACA JUGA: Harga TBS Kalbar Awal April 2026 Naik Menjadi Rp3.726 Per Kg

“Menjaga stabilitas bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan melibatkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah. Perlu saling bekerja sama supaya suasana usaha menjadi lebih kondusif,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, menegaskan bahwa harga produk tahu dan tempe di tingkat pengrajin masih stabil.

“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, tapi mungkin ada penyesuaian dari sisi volume. Dari sisi rasa dan kualitas tetap kami jaga. Hasil pantauan kami harga  tahu tempe tetap stabil di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000, tidak ada kenaikan yang cukup signifikan,” kata Wibowo

Ia juga memastikan bahwa harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada dalam batas aman.

“Untuk kedelainya kami beli dari importir itu di harga Rp10.200 dan itu masih sangat jauh di bawah HAP (harga acuan penjualan), jadi kalau dari harga kami masih stabil. Justru sebenarnya yang menjadi sedikit masalah bukan dari kedelainya tapi dari penunjangnya yaitu plastik,” jelasnya.

Wibowo menambahkan, pihaknya bersama para importir telah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pasokan.

“Ya ada komitmen kami sepakat dari HAP Rp11.500 di tingkat para importir dan Rp12.000 di tingkat kami (pengrajin tahu tempe) dan menurut kami itu angka yang masih wajar. Kami harap masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu berita yang tidak sesuai,” ucapnya.

Secara terpisah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran importir dalam menjaga stabilitas harga di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Terkait kedelai, kami sudah minta teman-teman importir jangan mengambil keuntungan besar. Naik bolehlah naik tetapi jangan sampai itu menekan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegas Mentan.

Menurutnya, situasi saat ini menjadi momentum bagi seluruh pelaku usaha untuk menunjukkan keberpihakan kepada bangsa.

“Kapan lagi kita mau berbuat baik pada bangsa, ini kesempatan emas untuk berbuat baik pada negara kita yang kita cinta,” pungkas Mentan Amran.

Kementerian Pertanian memastikan akan terus memantau implementasi kesepakatan ini serta mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

“Tahun ini kita punya program pengembangan kedelai sekitar 37.500 hektare. Ini akan terus kita dorong sehingga ke depan ketergantungan terhadap impor bisa kita kurangi,” pungkas Yudi. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP