Harga CPO KPBN Senin (13/4) Menguat Tipis, Bursa Malaysia Ikut Terdorong Lonjakan Minyak Dunia

Harga CPO KPBN Senin (13/4) Menguat Tipis, Bursa Malaysia Ikut Terdorong Lonjakan Minyak Dunia
Agricom.id

14 April 2026 , 13:42 WIB

Kenaikan harga CPO domestik dan penguatan di Bursa Malaysia dipicu lonjakan minyak mentah global di tengah ketegangan geopolitik. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik menunjukkan penguatan pada awal pekan. Berdasarkan data dari PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO pada Senin (13/4/2026) tercatat mengalami kenaikan meski transaksi berstatus withdraw (WD).

Harga penawaran tertinggi CPO mencapai Rp15.635 per kilogram, naik sekitar Rp46/kg atau 0,30% dibandingkan perdagangan Jumat (10/4/2026). Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif yang mulai terbentuk di pasar, meskipun aktivitas transaksi masih terbatas.

Informasi dari KPBN menunjukkan bahwa harga CPO Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp15.635/kg. Sementara itu, harga CPO FOB Talang Duku dibuka pada level Rp15.435/kg, namun kembali mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi di angka Rp15.367/kg.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat, Terdorong Lonjakan Minyak Mentah Global

Sejalan dengan pergerakan domestik, pasar global juga mencatatkan tren penguatan. Berdasarkan laporan Bernama, harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada hari yang sama, didorong oleh kenaikan tajam harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di kawasan Asia Barat.

Pada penutupan perdagangan, kontrak Mei 2026 naik RM11 menjadi RM4.511 per ton, sementara kontrak Juni 2026 menguat RM17 ke level RM4.555 per ton. Namun, kontrak April 2026 justru mengalami koreksi sebesar RM41 dan ditutup di posisi RM4.450 per ton.

BACA JUGA: Awal Pekan Melemah, Harga Karet SGX-SICOM Senin (13/4) Turun Rp400 Per Kg

Kombinasi penguatan harga energi global dan sentimen pasar yang membaik diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan harga CPO dalam jangka pendek, meskipun volatilitas masih berpotensi terjadi seiring dinamika geopolitik dan permintaan global. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP