Australia Lirik Impor Urea dari Indonesia, Kementan Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Australia Lirik Impor Urea dari Indonesia, Kementan Prioritaskan Kebutuhan Domestik
Agricom.id

19 April 2026 , 18:16 WIB

Wamentan Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4). Foto: Kementan

 

AGRICOM, JAKARTA — Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama perdagangan pupuk dengan Australia di tengah meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok global. Hal ini mengemuka dalam pertemuan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (15/4).

Pertemuan tersebut membahas potensi impor pupuk urea dari Indonesia oleh Australia, seiring meningkatnya kebutuhan global akibat gangguan distribusi pupuk internasional.

Wamentan Sudaryono menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk terganggunya jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, telah memengaruhi pasokan pupuk dunia. Jalur tersebut selama ini menjadi lintasan utama bagi sekitar sepertiga distribusi pupuk global.

BACA JUGA: Percepatan B50 dan E20 Dikebut, Kementan dan BUMN Genjot Kemandirian Energi Nasional

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujar Wamentan Sudaryono, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (19/4).

Kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun. Pada tahun 2026, ditargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton untuk mengamankan stok domestik. Surplus ini membuka peluang ekspor ke berbagai negara, termasuk Australia.

Namun demikian, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. “Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” tegasnya.

BACA JUGA: Andalas Forum VI: ISPO Didorong Jadi Standar Global, Indonesia Siap Pimpin Arah Keberlanjutan Sawit

Menurutnya, minat terhadap urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia, tetapi juga dari sejumlah negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil. Meski demikian, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.

Wamentan Sudaryono juga menjelaskan bahwa hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Indonesia, di satu sisi, mengekspor urea, namun di sisi lain juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.

“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujarnya.

BACA JUGA: Sinergi Agrinas Palma Nusantara dan KPBN Dorong Efisiensi Pasar Sawit

Lebih lanjut, ia memastikan bahwa ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut sebagai indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.

“Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1–2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” jelasnya.

Ke depan, pemerintah juga berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional, sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.

BACA JUGA: Harga CPO Tertekan: KPBN dan Bursa Malaysia Melemah di Tengah Lesunya Permintaan

Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP