Wamentan Sudaryono Pimpin Tanam Padi Serentak Nasional di Jambi

Wamentan Sudaryono Pimpin Tanam Padi Serentak Nasional di Jambi
Agricom.id

24 April 2026 , 07:35 WIB

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memimpin gerakan tanam padi serentak di 16 provinsi dari Jambi, mendorong percepatan tanam untuk mengantisipasi dampak El Nino dan memperkuat produksi pangan nasional. Foto: Humas Kementan

 

AGRICOM, JAMBI — Pemerintah mempercepat langkah antisipatif menghadapi ancaman perubahan iklim dengan menggelar Gerakan Tanam Padi Serentak di 16 provinsi. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dari lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi, Selasa (21/4/2026).

Gerakan ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah potensi gangguan akibat fenomena El Nino. Pelaksanaan dilakukan secara hybrid, menghubungkan berbagai wilayah sentra produksi melalui jaringan daring.

Dalam arahannya, Sudaryono menegaskan bahwa percepatan tanam merupakan kunci untuk memaksimalkan sisa musim hujan. Ia mendorong seluruh daerah bergerak cepat agar siklus produksi dapat berlangsung lebih optimal.

BACA JUGA: Hadapi Kemarau 2026, Kementan Andalkan Pompanisasi dan Pupuk untuk Jaga Produksi

“Momentum hujan yang masih ada harus dimanfaatkan. Semakin cepat tanam, semakin cepat panen. Ini penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional,” ujar Wamentan Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Jumat (24/4).

Fokus utama diarahkan pada optimalisasi lahan Cetak Sawah Rakyat di Jambi, dengan target sekitar 5.000 hektare segera masuk masa tanam. Pemerintah menilai keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pencetakan lahan, tetapi pada kecepatan pemanfaatannya menjadi area produksi aktif.

Menurutnya, kunci keberhasilan CSR bukan hanya pada pencetakan lahan, tetapi memastikan lahan tersebut langsung dimanfaatkan. Karena itu, Kementerian Pertanian menurunkan penyuluh, Brigade Pangan, serta dukungan alat dan mesin pertanian agar proses tanam berjalan cepat dan efisien.

BACA JUGA: KTNA Perkuat Dukungan Swasembada Pangan Lewat Inovasi dan Teknologi Pertanian

Di lapangan, tanam dilakukan secara serempak dengan memanfaatkan mekanisasi seperti rice transplanter dan drone. Pendekatan ini menjadi bagian dari modernisasi pertanian sekaligus menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja.

“Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien. Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Selain itu, pemerintah juga memaksimalkan dukungan sumber daya air guna menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino. Seluruh sumber air diidentifikasi dan dimanfaatkan untuk memastikan keberlanjutan pertanaman di lahan CSR.

BACA JUGA: Australia Lirik Impor Urea dari Indonesia, Kementan Prioritaskan Kebutuhan Domestik

“Kita identifikasi sumber air, siapkan pompa, sumur bor, dan manfaatkan air sungai agar lahan yang sudah dicetak tetap bisa ditanami,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan waktu tanam menjadi faktor penting dalam menjaga produksi.

“Benih bisa kita bantu, pupuk bisa kita sediakan. Tapi air dan hujan tidak bisa kita datangkan. Jadi manfaatkan waktu yang ada untuk segera tanam,” tegasnya.

BACA JUGA: Setelah Australia, India Minati Impor Pupuk Indonesia di Tengah Surplus Nasional

Secara nasional, Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dilaksanakan di 19 provinsi dan ditargetkan seluruh lahan yang telah dicetak segera masuk siklus tanam guna memperkuat produksi padi secara berkelanjutan.

Pengawalan di lapangan menjadi faktor penentu dalam pelaksanaan program ini. Pemerintah memastikan pemanfaatan lahan, termasuk yang bersumber dari skema CSR, dapat langsung ditanami tanpa penundaan, sementara berbagai kendala teknis diselesaikan secara paralel agar tidak menghambat percepatan tanam.

Program CSR di Jambi menjadi bagian dari strategi percepatan perluasan lahan produktif nasional.

BACA JUGA: Percepatan B50 dan E20 Dikebut, Kementan dan BUMN Genjot Kemandirian Energi Nasional

Wamentan Sudaryono juga membuka ruang bagi petani dan pemerintah daerah untuk menyampaikan kebutuhan di lapangan, mulai dari benih hingga alat dan mesin pertanian, guna memastikan proses tanam berjalan optimal.

Dalam kegiatan tersebut, Wamentan Sudaryono bersama para petani dan generasi muda yang tergabung dalam ‘Brigade Pangan’ melakukan penanaman massal menggunakan teknologi pertanian modern, seperti alat rice transplanter hingga drone penabur benih/pupuk.

Menurutnya, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) penting untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses tanam.

BACA JUGA: Mentan Amran: Program B50 Tak Ganggu Pasokan dan Harga Minyak Goreng

“Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien. Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan, kita pastikan lahan yang sudah dicetak bisa segera ditanami dan memberikan hasil nyata,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris memaparkan kondisi pertanian di daerahnya. Saat ini, luas lahan baku sawah di Jambi mencapai 69.000 hektare, dengan lahan eksisting sekitar 54.000 hektare. Pada tahun 2025, program CSR telah menanam sekitar 1.200 hektare, dan pada 2026 ditargetkan meningkat menjadi 4.100 hektare.

Namun demikian, produksi padi di Jambi saat ini baru mampu memenuhi sekitar 71 persen kebutuhan konsumsi daerah, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 29 persen untuk mencapai swasembada.

“Kami terus mendorong peningkatan luas tanam dan produksi. Salah satunya dengan mengubah pola pikir petani agar tidak hanya tanam sekali setahun, tetapi bisa dua hingga tiga kali,” ujar Al Haris.

Ia optimistis, dengan dukungan pemerintah pusat melalui pembangunan irigasi dan bantuan sarana pertanian, Jambi mampu mencapai swasembada padi pada tahun 2026.

Tak hanya itu, Al Haris juga mengusulkan tambahan infrastruktur penunjang, seperti pembangunan irigasi, jalan usaha tani, hingga mesin pengering padi, khususnya di wilayah Tanjung Jabung Timur.

“Kami siap mendukung ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan SDM Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pemerintah daerah, hingga penyuluh pertanian dan petani di lokasi pelaksanaan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP