Harga CPO di Bursa Malaysia turun setelah tiga hari menguat, tertekan aksi ambil untung dan pelemahan harga olein dan minyak kedelai di pasar Asia. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Kamis (23/4/2026), mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung pelaku pasar di tengah tekanan dari melemahnya harga olein sawit di pasar China.
Berdasarkan data penutupan, kontrak CPO untuk pengiriman Mei 2026 turun MYR44 Ringgit Malaysia menjadi MYR4.505/ton. Sementara kontrak Juni 2026 terkoreksi MYR47 ke level MYR4.552/ton.
Tekanan berlanjut pada kontrak bulan berikutnya. Kontrak Juli 2026 melemah MYR49 menjadi 4.579 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan Agustus 2026 turun MYR47 menjadi MYR4.593/ton.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat Tiga Hari Beruntun, Terdorong Kenaikan Minyak Kedelai Global
Untuk kontrak September 2026, harga tercatat turun MYR41 menjadi MYR4.598/ton. Adapun kontrak Oktober 2026 mengalami penurunan sebesar MYR38 ke level MYR4.690/ton.
Dilansir dari TradingView, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyebut bahwa pelemahan harga CPO sejalan dengan pergerakan pasar minyak nabati global.
“Harga berjangka bergerak turun akibat aksi ambil untung, mengikuti pelemahan harga olein sawit di Dalian serta minyak kedelai di Chicago,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Naik ke Rp35.759/Kg pada Kamis (23/4), Tren Penguatan Kian Solid
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik tipis 0,09%, sementara kontrak minyak sawitnya justru turun 0,05%. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade terkoreksi sekitar 0,2%.
Pergerakan harga CPO memang cenderung mengikuti dinamika minyak nabati lain karena bersaing dalam pasar global yang sama. Fluktuasi di pasar kedelai dan minyak nabati lain seringkali menjadi sentimen utama bagi pelaku pasar.
Dari sisi fundamental, kebijakan energi juga turut menjadi faktor penopang. Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan mandatori campuran biodiesel berbasis sawit dari 40% (B40) menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diproyeksikan akan meningkatkan konsumsi domestik CPO sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
BACA JUGA: Wamentan Sudaryono Pimpin Tanam Padi Serentak Nasional di Jambi
Di sisi lain, harga minyak mentah global masih menunjukkan tren penguatan, dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan tersendatnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, serta berlanjutnya pembatasan perdagangan di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah tersebut meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Namun demikian, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS sekitar 0,3% turut memberikan efek kompetitif bagi ekspor CPO Malaysia, meski belum cukup menahan tekanan koreksi harga pada perdagangan kali ini. (A3)