Harga CPO KPBN Kamis (23/4) Menguat Tipis, Bursa Malaysia Melemah Tertekan Profit Taking

Harga CPO KPBN Kamis (23/4) Menguat Tipis, Bursa Malaysia Melemah Tertekan Profit Taking
Agricom.id

24 April 2026 , 12:44 WIB

Harga CPO KPBN naik tipis pada Kamis (23/4/2026), sementara pasar Malaysia terkoreksi akibat aksi ambil untung dan pelemahan minyak nabati global. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (CPO) di dalam negeri menunjukkan penguatan terbatas, berbanding terbalik dengan tren di pasar global yang justru mengalami koreksi.

Berdasarkan data PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO tertinggi ditetapkan sebesar Rp 15.488/kg pada Kamis (23/4/2026), naik Rp 76/kg atau sekitar 0,49% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 15.412/kg.

Harga CPO Franco Dumai ditetapkan Rp 15.488/kg, sementara itu, harga CPO Loco Parindu dibuka di level Rp 15.138/kg, namun berakhir withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi mencapai Rp 14.963/kg.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (22/4) Naik Tipis, Didukung Tren Positif Pasar Global

Di sisi lain, perdagangan CPO global di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah setelah sebelumnya mencatatkan penguatan selama tiga hari berturut-turut. Koreksi ini dipicu aksi ambil untung pelaku pasar di tengah penurunan harga palm olein di pasar Dalian.

Mengutip laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 tercatat turun RM49 per ton atau sekitar 1,06% menjadi RM4.579 per ton, setara sekitar US$1.155,44 per ton pada penutupan perdagangan.

Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak soyoil paling aktif di Dalian naik tipis sekitar 0,09%, sementara kontrak minyak sawitnya justru turun 0,05%. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah sekitar 0,2%.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Terkoreksi, Aksi Ambil Untung Akhiri Tren Penguatan

Pergerakan harga CPO memang tidak terlepas dari dinamika pasar minyak nabati global. Sebagai komoditas yang bersaing langsung dengan minyak kedelai dan minyak nabati lainnya, perubahan harga di pasar global kerap menjadi sentimen utama bagi pergerakan harga sawit.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mulai mencermati kebijakan energi dalam negeri. Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan mandat campuran biodiesel berbasis sawit dari 40% (B40) menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik CPO sekaligus menopang harga di tengah tekanan global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Naik ke Rp35.759/Kg pada Kamis (23/4), Tren Penguatan Kian Solid

Dengan kondisi tersebut, pasar CPO saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara sentimen eksternal yang cenderung menekan dan dukungan fundamental dari kebijakan domestik yang berpotensi mengangkat permintaan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP