Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Ali Jamil yang hadir mewakili Mentan menyoroti peran penting subsektor perkebunan sebagai penopang ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi kawasan. Foto: Istimewa
AGRICOM, BANDAR SERI BEGAWAN – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan global melalui penguatan kolaborasi regional yang lebih konkret dan terintegrasi di kawasan Asia Pasifik.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Sidang ke-38 Food and Agriculture Organization (FAO) Konferensi Regional Asia dan Pasifik (APRC 38) yang digelar pada 20–24 April 2026 di Brunei Darussalam. Forum ini menjadi wadah strategis bagi negara-negara anggota untuk merumuskan langkah kolektif dalam menghadapi tekanan global terhadap sektor pangan.
BACA JUGA: Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton, Pemerintah Klaim Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, yang hadir mewakili Menteri Pertanian, menyoroti peran vital subsektor perkebunan sebagai salah satu penopang utama ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi kawasan.
Ia menekankan bahwa sektor perkebunan tidak hanya menopang kehidupan jutaan pekebun, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara. Menurutnya, kolaborasi regional akan mempercepat transfer inovasi dan teknologi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat keberlanjutan sektor pertanian.
BACA JUGA: Kementan Percepat Pengendalian Hama Padi di Pinrang, Ribuan Hektare Sawah Terselamatkan
“Perkebunan menjadi tulang punggung bagi jutaan pekebun dan berkontribusi besar terhadap devisa negara. Dengan kolaborasi regional, transfer inovasi dan teknologi bisa dipercepat, produktivitas meningkat, dan keberlanjutan sektor semakin terjaga,” ujarnya, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (26/4).
Menurutnya, Indonesia juga mendorong penguatan kolaborasi di tingkat subregional agar implementasi program lebih efektif dan tepat sasaran. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan kapasitas antarnegara sekaligus mempercepat adopsi praktik terbaik di sektor pertanian.
BACA JUGA: GAPKI dan KLH Gelar Apel Siaga, Perkuat Antisipasi Karhutla
Sebagai informasi, Food and Agriculture Organization (FAO) melalui APRC merupakan forum strategis yang mempertemukan negara anggota guna merumuskan arah kebijakan dan prioritas pembangunan pangan dan pertanian di kawasan.
Partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini menegaskan peran strategisnya dalam mendorong transformasi sistem pangan global di tengah dinamika dunia yang terus berubah, sekaligus memperkuat sektor pertanian nasional sebagai pilar utama pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (24/4) Naik Tipis, Bursa Malaysia Catat Kenaikan Mingguan Perdana
Secara terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, tantangan pangan tidak lagi bersifat lokal, melainkan lintas negara dan semakin kompleks, mulai dari krisis iklim, gejolak geopolitik, hingga disrupsi rantai pasok.
“Tidak ada satu negara pun yang bisa berdiri sendiri menghadapi tantangan ini. Kolaborasi regional adalah kunci untuk menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan produktivitas, dan memastikan akses pangan tetap terjaga,” tegasnya.
Ia menekankan, kerja sama antarnegara harus bergerak lebih maju, tidak hanya sebatas forum, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata seperti pertukaran teknologi, penguatan riset bersama, hingga skema pembiayaan inovatif untuk sektor pertanian. (A3)