Harga CPO di KPBN mengalami withdraw pada perdagangan Kamis (7/5/2026) dengan penawaran tertinggi Rp 15.222/kg, sejalan dengan pelemahan CPO Bursa Malaysia yang tertekan oleh turunnya harga minyak kedelai global, penguatan ringgit, dan proyeksi kenaikan produksi sawit Malaysia. Foto: Agricom.id
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat mengalami withdraw (WD) pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Harga penawaran tertinggi CPO berada di level Rp 15.222/kg.
Dengan capaian tersebut, harga CPO domestik tercatat turun Rp 50/kg dibandingkan perdagangan Rabu (6/5/2026) yang mencapai Rp 15.575/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (6/5) Turun ke Rp15.575/Kg, Bursa Malaysia Anjlok Hampir 3%
Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom.id dari KPBN, harga CPO Franco Dumai dibuka pada level Rp 15.350/kg, namun berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp 15.222/kg. Sementara itu, harga CPO Loco Parindu dibuka Rp 15.000/kg dan juga mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi Rp 14.782/kg.
Pelemahan harga di pasar domestik terjadi sejalan dengan penurunan harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives yang kembali melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Kamis.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Anjlok 2,82 Persen, Tertekan Minyak Mentah dan Soyoil
Dilansir dari Reuters, kontrak acuan CPO pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia turun RM20 per ton atau sekitar 0,44 persen menjadi RM4.559 per ton pada jeda perdagangan siang.
Tekanan terhadap pasar CPO dipicu kombinasi sejumlah sentimen eksternal, mulai dari melemahnya harga minyak kedelai global, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia, hingga ekspektasi meningkatnya produksi sawit Malaysia selama April 2026.
BACA JUGA: Indonesia Perkaya Genetik Sawit, SDG Asal Tanzania Resmi Dilepas di Sumut
Selain itu, selisih harga minyak sawit terhadap gas oil yang semakin menyempit turut mengurangi daya saing CPO sebagai bahan baku energi, khususnya untuk industri biodiesel. Sentimen negatif pasar juga diperburuk oleh penurunan tajam harga minyak mentah dunia pada perdagangan sebelumnya yang menekan pergerakan komoditas global secara keseluruhan.
Survei Reuters sebelumnya menunjukkan stok minyak sawit Malaysia selama April diperkirakan mengalami penurunan, demikian pula ekspor. Namun di sisi lain, produksi sawit diproyeksikan meningkat cukup signifikan seiring pulihnya produksi musiman setelah periode output rendah pada awal tahun.
BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi
Pelaku pasar kini menantikan rilis data bulanan pasokan dan permintaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada 11 Mei mendatang. Data tersebut dinilai akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah harga CPO jangka pendek, terutama terkait perkembangan stok, produksi, dan ekspor Malaysia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia.
Tekanan serupa juga terlihat di pasar minyak nabati regional lainnya. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat turun 1,14 persen, sementara kontrak minyak sawit di pasar yang sama melemah 1,48 persen. Di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turut terkoreksi 0,32 persen.
BACA JUGA: Tren Penguatan Makin Solid, Harga Karet SGX-Sicom Kamis (7/5) Naik ke Rp 38.030/Kg
Kondisi tersebut menunjukkan pasar minyak nabati global masih dibayangi sentimen bearish, meski pelaku pasar tetap menunggu kepastian arah fundamental pasar dari laporan resmi MPOB pekan depan. (A3)