Harga CPO KPBN Rabu (13/5) Turun ke Rp15.100/Kg, Bursa Malaysia Masih Dibayangi Lesunya Permintaan

Harga CPO KPBN Rabu (13/5) Turun ke Rp15.100/Kg, Bursa Malaysia Masih Dibayangi Lesunya Permintaan
Agricom.id

14 May 2026 , 18:41 WIB

Dok. Agricom.id/ Pelemahan permintaan dari India dan China kembali menekan harga CPO global dan domestik. Harga CPO KPBN turun Rp50/kg, sementara kontrak CPO Malaysia menyentuh level terendah sejak Maret 2026.

 

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar domestik kembali mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (13/5/2026). PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) menetapkan harga CPO sebesar Rp15.100 per kilogram, turun Rp50 per kilogram atau sekitar 0,33% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp15.150 per kilogram.

Berdasarkan informasi pasar yang dihimpun Agricom.id dari KPBN, harga CPO Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp15.100 per kilogram. Sementara itu, harga CPO Loco Parindu dibuka di level Rp14.750 per kilogram, namun berakhir withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi tercatat sebesar Rp14.353 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (12/5) Turun Jadi Rp15.150 Per Kg

Untuk produk turunan, harga crude palm kernel oil (CPKO) Franco Dumai dibuka pada level Rp32.146 per kilogram, namun juga mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi berada di level Rp31.350 per kilogram. Sedangkan harga palm kernel (PK) Franco Belawan ditetapkan sebesar Rp14.828 per kilogram.

Pelemahan harga di pasar domestik sejalan dengan tekanan yang terjadi di Bursa Malaysia Derivatives. Perdagangan CPO Malaysia pada Rabu (13/5/2026) kembali ditutup melemah akibat perlambatan permintaan dari dua negara konsumen utama dunia, yakni India dan China.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Kembali Terkoreksi, Permintaan India dan China Jadi Sorotan Pasar

Mengutip laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 turun RM41 per ton atau sekitar 0,91% menjadi RM4.440 per ton metrik. Posisi tersebut menjadi level penutupan terendah sejak 10 Maret 2026.

Pelaku pasar menilai lemahnya permintaan impor dari India mulai memberikan tekanan serius terhadap pasar minyak sawit global. Data dari Solvent Extractors’ Association of India menunjukkan impor minyak sawit India pada April 2026 anjlok hingga 26% dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Rabu (13/5) Turun Tipis ke Rp38.651 Per Kg

Penurunan impor tersebut dipicu melemahnya permintaan institusional serta tingginya harga CPO yang membuat selisih harga dengan minyak nabati pesaing semakin tipis. Kondisi itu mendorong sebagian pembeli beralih ke minyak nabati alternatif yang dinilai lebih kompetitif.

Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat turun tipis 0,04%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah lebih dalam sebesar 1,28%.

BACA JUGA: Kolaborasi APKARINDO Sumsel dan JICA Uji Coba Teknologi Pengendalian Penyakit Gugur Daun Karet

Berbeda dengan pasar Asia, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) justru menguat tipis sekitar 0,11%, mencerminkan pasar global masih menunggu perkembangan baru terkait permintaan dan produksi minyak nabati dunia.

Pelaku industri memperkirakan volatilitas harga CPO masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama apabila permintaan dari India dan China belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP