Dok. Agricom/ Harga CPO Bursa Malaysia turun 1,2 persen pada Kamis (21/5/2026) akibat lemahnya ekspor dan tekanan pasar minyak nabati global.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026), memperpanjang penurunan selama dua sesi berturut-turut seiring melemahnya permintaan ekspor dan tekanan dari pasar minyak nabati global.
Dilansir dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun RM55 per ton atau sekitar 1,2 persen menjadi RM4.528 per ton pada jeda perdagangan siang.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Bergerak Terbatas, Pasar Tunggu Dampak Kebijakan Ekspor Baru Indonesia
Pelemahan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang Mei 2026. Berdasarkan data surveyor kargo, ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1–20 Mei diperkirakan turun antara 13,9 persen hingga 20,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ekspor itu memperkuat sentimen negatif di pasar, terutama ketika harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai juga bergerak melemah di pasar global.
Di pasar domestik, harga CPO pada tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami tekanan cukup dalam. Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), tender CPO tercatat withdraw (WD) dengan harga penawaran tertinggi sebesar Rp12.285/kg.
Dengan demikian, harga penawaran CPO KPBN turun Rp2.215/kg atau sekitar 15,21 persen dibandingkan perdagangan Rabu (20/5/2026) yang mencapai Rp14.500/kg.
Sementara itu, di pasar minyak nabati global lainnya, harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange turun 0,61 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah sekitar 1 persen.
Tekanan juga datang dari pasar Amerika Serikat, di mana harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi sekitar 0,43 persen.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Kamis (21/5) Turun Tipis, Masih Bertahan di Atas Rp39 Ribu/Kg
Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan permintaan ekspor minyak sawit dari negara-negara konsumen utama, termasuk India dan China, di tengah fluktuasi harga minyak nabati global serta pergerakan harga energi dunia.
Meski mengalami koreksi dalam jangka pendek, pasar masih menilai fundamental permintaan CPO global relatif solid, terutama didukung kebutuhan biodiesel dan konsumsi pangan di sejumlah negara berkembang. (A3)