Harga CPO Malaysia Terkoreksi 1%, Pasar Dibayangi Pelemahan Minyak Nabati Dalian

Harga CPO Malaysia Terkoreksi 1%, Pasar Dibayangi Pelemahan Minyak Nabati Dalian
Agricom.id

06 June 2026 , 19:27 WIB

Dok. Agricom/ Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia kembali melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) akibat tekanan dari pasar minyak nabati Tiongkok. Di pasar domestik, harga CPO KPBN juga turun tipis Rp 25/kg menjadi Rp 15.050/kg.

 

AGRICOM, JAKARTA – Perdagangan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia kembali ditutup melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026), menandai penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Pelemahan tersebut dipicu oleh sentimen negatif dari pasar minyak nabati di Tiongkok, meskipun tekanan harga masih tertahan oleh penguatan minyak kedelai di Amerika Serikat serta pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia.

Pada sesi perdagangan pagi di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak CPO acuan pengiriman Agustus 2026 tercatat turun RM48 per ton atau sekitar 1,04% menjadi RM4.553 per ton. Penurunan ini mengikuti pergerakan pasar minyak nabati di Bursa Dalian, Tiongkok, yang menjadi salah satu acuan utama perdagangan minyak nabati global.

BACA JUGA: CPO Bursa Malaysia Melemah, Tertekan Harga Minyak Kedelai dan Lesunya Ekspor Mei

Dilansir dari Reuters, harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 1,37%, sementara kontrak minyak sawit mengalami koreksi lebih dalam hingga 2,49%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bergerak positif dengan kenaikan sekitar 0,33%.

Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya aksi ambil untung di kalangan pelaku pasar setelah reli harga yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan dari pasar Tiongkok turut memengaruhi sentimen perdagangan minyak sawit global, mengingat negara tersebut merupakan salah satu konsumen utama minyak nabati dunia.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (4/6) Naik Tipis ke Rp15.075/Kg, Bursa Malaysia Justru Ditutup Melemah

Meski demikian, pelemahan harga CPO di Bursa Malaysia tidak berlangsung terlalu tajam. Salah satu faktor penahan penurunan berasal dari melemahnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan Jumat, ringgit tercatat melemah sekitar 0,5% terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang Malaysia ini membuat harga CPO menjadi lebih kompetitif bagi pembeli internasional yang menggunakan dolar atau mata uang asing lainnya, sehingga berpotensi meningkatkan minat pembelian ekspor.

BACA JUGA: SPKS Tolak Kenaikan Harga Jual Minyak Goreng MINYAKITA, Penggunaan Dana BPDP Harusnya Dialokasikan Bagi Rakyat Indonesia

Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga CPO yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami koreksi tipis. Harga CPO KPBN pada Jumat (5/6/2026) ditetapkan sebesar Rp 15.050 per kilogram.

Harga tersebut turun Rp 25 per kilogram atau sekitar 0,17% dibandingkan posisi Kamis (4/6/2026) yang mencapai Rp 15.075 per kilogram. Penurunan yang relatif terbatas ini menunjukkan pasar masih mencari arah baru setelah sebelumnya mendapat dukungan dari prospek permintaan ekspor dan pergerakan harga minyak nabati global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Jumat (5/6) Turun, Namun Tetap Kokoh di Atas Rp41 Ribu per Kilogram

Pelaku industri sawit kini akan mencermati perkembangan permintaan dari negara-negara importir utama, termasuk Tiongkok dan India, serta dinamika harga minyak kedelai dan minyak mentah dunia yang selama ini menjadi faktor penting dalam pembentukan harga CPO global.

Selain itu, pergerakan nilai tukar ringgit dan kebijakan perdagangan minyak nabati di sejumlah negara juga diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek. Dengan volatilitas yang masih cukup tinggi, pasar CPO diperkirakan tetap bergerak fluktuatif seiring perubahan sentimen di pasar komoditas global. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP