AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global maupun domestik bergerak melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026). Koreksi terjadi setelah harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 15 pekan, sementara harga CPO di pasar fisik Indonesia melalui tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mencatatkan penurunan.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM39 per ton, atau sekitar 0,83%, menjadi RM4.683 per metrik ton (sekitar US$1.147,79) pada awal perdagangan.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Tembus Level Tertinggi 15 Pekan, Didorong Reli Energi dan B50 Indonesia
Pelemahan harga dipengaruhi oleh turunnya harga minyak nabati pesaing, termasuk minyak kedelai, serta melemahnya harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak mentah mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap sentimen pasar.
Di pasar domestik, harga CPO yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami koreksi. Pada tender Senin (27/7/2026), seluruh penawaran berakhir withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi sebesar Rp15.677 per kilogram.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Withdraw di Rp15.768/Kg, Malaysia Melonjak ke Level Tertinggi 15 Pekan
Dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya pada Jumat (24/7/2026) yang mencatat penawaran tertinggi Rp15.768 per kilogram, harga CPO KPBN turun Rp91 per kilogram atau sekitar 0,58%.
Meskipun mengalami penurunan, level harga CPO saat ini masih berada di kisaran yang relatif tinggi dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Pelaku pasar kini mencermati pergerakan harga minyak nabati global, fluktuasi harga energi, serta prospek permintaan dari negara-negara importir utama yang diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah harga CPO dalam jangka pendek. (A3)