Dok. Istimewa/ Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pemerintah mulai membangun fondasi swasembada bawang putih melalui penguatan perbenihan nasional, pelibatan BUMN, serta pengembangan sentra produksi untuk mengurangi ketergantungan impor yang masih mendominasi kebutuhan dalam negeri.
AGRICOM, JAKARTA – Pemerintah mulai memperkuat fondasi swasembada bawang putih nasional melalui percepatan program perbenihan sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor yang selama ini masih mendominasi kebutuhan dalam negeri.
Dilansir Agricom.id dari laman Kementan, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan, Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan sistem produksi bawang putih yang lebih mandiri dengan menitikberatkan pada penyediaan benih nasional. Upaya ini dinilai menjadi kunci untuk memperluas budidaya dan meningkatkan produksi petani di berbagai daerah sentra.
BACA JUGA: Mentan Amran Sebut Mayoritas Perusahaan Sawit Sudah Sesuaikan Harga TBS, Pengawasan Terus Diperketat
Menurut Sudaryono, kebijakan pemerintah tidak lagi hanya mempertimbangkan aspek harga yang lebih murah dari produk impor, tetapi juga menempatkan ketahanan dan kedaulatan pangan sebagai prioritas utama.
“Kalau atas dasar efisiensi mungkin impor bisa dibenarkan. Tapi atas dasar survival of the country, itu tidak bisa dibenarkan. Kita ingin petani kita hidup dan Indonesia tidak terus bergantung pada negara lain,” kata Wamentan Sudaryono usai Rapat Pengembangan Bawang Putih di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, pemerintah berharap pengurangan impor sudah mulai dilakukan secara bertahap mulai pertengahan tahun depan seiring meningkatnya produksi dalam negeri.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Naik Rp159/Kg, Sentuh Rp3.879 per Kilogram
“Kita berharap mulai pertengahan tahun depan sudah ada pengurangan kuota impor. Memang tidak langsung besar, tetapi begitu bibit sudah cukup, kita bisa produksi massal. Tujuan akhirnya adalah bawang putih yang kita konsumsi berasal dari hasil produksi petani sendiri,” ujarnya.
Wamentan Sudaryono menyampaikan tantangan pengembangan bawang putih sekarang adalah pembibitan.
“Kalau bibit tersedia dan petani untung, pasti petani menanam. Dengan pola ini, kita optimistis dalam tiga sampai empat tahun impor bawang putih akan terus turun, syukur-syukur bisa nol,” pungkasnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Naik ke Rp3.789/Kg pada Periode III Juni 2026
Untuk mendukung target tersebut, Kementan bersama Bulog, ID FOOD, dan PTPN membangun ekosistem dari hulu hingga hilir. Bulog dan ID FOOD akan menjadi offtaker hasil perbenihan, sementara PTPN terlibat untuk memanfaatkan lahan-lahan dataran tinggi yang potensial untuk budidaya bawang putih.
“Bukan hanya mengandalkan petani, BUMN juga terlibat. Offtaker pembibitan adalah Bulog dan ID FOOD, sedangkan PTPN ikut menanam di lahan-lahan yang sesuai,” terang Wamentan Sudaryono.
Saat ini Kementan telah mengidentifikasi kawasan-kawasan potensial, termasuk Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara. Pemerintah juga menjajaki pemanfaatan lahan perkebunan dataran tinggi yang sudah tidak produktif, termasuk di Jawa Barat.
BACA JUGA: Kemendag dan Satgas Pangan Perketat Pengawasan MINYAKITA, Harga di Pasar Dipastikan Sesuai HET
Wamentan Sudaryono menegaskan, tantangan terbesar menuju swasembada bukan pada minat petani maupun pasar, melainkan pada penyediaan benih yang sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia.
Karena itu, pemerintah menyiapkan program perbenihan dengan pola bergulir. Tahun ini, APBN mendukung perbenihan seluas 5.000 hektare dengan bantuan benih sekitar Rp75 juta per hektare. Setelah panen, petani mengembalikan benih sebesar satu setengah kali dari jumlah yang diterima untuk kemudian disalurkan kembali untuk perbenihan. (A3)