Harga CPO Malaysia Menguat, Implementasi B50 Indonesia Angkat Sentimen Pasar Sawit

Harga CPO Malaysia Menguat, Implementasi B50 Indonesia Angkat Sentimen Pasar Sawit
Agricom.id

27 June 2026 , 12:43 WIB

Dok. Agricom/Harga CPO Malaysia dan KPBN naik pada Jumat (26/6/2026) setelah pemerintah Indonesia memastikan mandatori biodiesel B50 mulai berlaku 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan meningkatkan konsumsi domestik dan menopang pasar minyak sawit global.

AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Kepastian implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia mulai 1 Juli 2026 menjadi faktor utama yang mendorong sentimen positif pasar.

Dilansir dari Reuters, berdasarkan perdagangan siang hari, kontrak CPO acuan untuk pengiriman September 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM40 per ton atau sekitar 0,88% menjadi RM4.597 per ton metrik.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Turun ke RM4.542 per Ton

Kenaikan tersebut terjadi setelah pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan regulasi pelaksanaan mandatori biodiesel B50 pada Kamis (25/6/2026). Kebijakan tersebut dipandang akan meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri, sehingga berpotensi mengurangi pasokan ekspor dan memperketat keseimbangan pasar global.

Meski mencatat penguatan pada akhir pekan, kontrak CPO Malaysia secara mingguan masih mengalami pelemahan sekitar 1,05% akibat tekanan yang terjadi pada beberapa sesi perdagangan sebelumnya.

Di pasar domestik, harga minyak sawit mentah yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga menunjukkan tren positif. Harga CPO KPBN pada Jumat (26/6/2026) ditetapkan sebesar Rp15.575 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Turun ke Rp15.350/Kg Pada Kamis (25/6), Bursa Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun

Angka tersebut meningkat Rp225 per kilogram atau sekitar 1,47% dibandingkan harga pada Kamis (25/6/2026) yang berada di level Rp15.350 per kilogram.

Pemerintah Indonesia dalam aturan terbaru menetapkan bahwa implementasi B50 mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Dalam pelaksanaannya, pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan bagi pelaku distribusi bahan bakar untuk menghabiskan stok biodiesel yang masih beredar sebelum seluruh distribusi beralih ke campuran biodiesel 50 persen.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi industri sawit karena berpotensi meningkatkan serapan minyak sawit domestik dalam jumlah signifikan. Peningkatan konsumsi dalam negeri diperkirakan dapat membantu menjaga stabilitas harga CPO di tengah dinamika pasar global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Anjlok di Akhir Pekan, Tertinggi ke Rp37.632/Kg

Selain faktor kebijakan Indonesia, data ekspor Malaysia turut memberikan dukungan terhadap penguatan harga.

Laporan perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia selama periode 1–25 Juni 2026 meningkat sekitar 11,1% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, survei Intertek Testing Services mencatat ekspor minyak sawit Malaysia pada periode yang sama naik sekitar 10,6%. Kenaikan ekspor tersebut mengindikasikan permintaan global terhadap minyak sawit masih cukup kuat menjelang berakhirnya bulan Juni.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

Dari pasar minyak nabati pesaing, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik sekitar 0,81%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama menguat 1,22%.

Namun, pergerakan berbeda terjadi di pasar Amerika Serikat. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat melemah sekitar 0,73%, memberikan gambaran bahwa sentimen di pasar minyak nabati global masih bergerak beragam.

Dengan kombinasi dukungan dari kebijakan biodiesel Indonesia, peningkatan ekspor Malaysia, serta penguatan sejumlah minyak nabati di Asia, pelaku pasar kini menantikan dampak implementasi B50 terhadap permintaan minyak sawit dalam beberapa bulan mendatang. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP