Dok. Kementan / Penerapan PM-AAS di Desa Kedungneng, Brebes, menghasilkan produktivitas padi 10,43 ton GKP per hektare, hampir dua kali lipat dari rata-rata produktivitas petani setempat. Foto: Kementerian Pertanian.
BREBES — Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menunjukkan potensi peningkatan produktivitas padi setelah hasil panen mencapai 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare, dibandingkan rata-rata produktivitas petani setempat sekitar 5–6 ton per hektare.
Dilansir Agricom dari laman Kementan, Senin (10/8/2026). Hasil tersebut diperoleh dari panen lahan penerapan PM-AAS di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Brebes, pada Selasa (4/8). Produktivitas tersebut dicapai melalui penerapan paket teknologi budidaya secara terpadu, mulai dari sistem tanam jajar legowo, penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, hingga pengelolaan air dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).
Kementerian Pertanian menempatkan PM-AAS sebagai salah satu pendekatan untuk mempercepat modernisasi pertanian dan mendukung target swasembada pangan nasional. Sistem tersebut mengintegrasikan teknologi budidaya, mekanisasi, pengelolaan hara dan air, serta pendampingan petani dalam satu rangkaian produksi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan PM-AAS merupakan salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produksi pangan. Menurutnya, pendekatan tersebut telah melalui penelitian dan pengujian selama hampir dua tahun sebelum diperluas ke berbagai daerah.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, mengatakan PM-AAS dirancang dengan mengintegrasikan berbagai komponen teknologi sesuai kondisi lokasi.
BACA JUGA: Kemendag Perkuat Ekosistem Ekspor di Sulawesi, Papua, dan Maluku
“Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektare,” kata Fadjry.
Menurut dia, perluasan program tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga mendorong efisiensi usaha tani dan pendapatan petani.
Dampak penerapan teknologi tersebut juga dirasakan petani di Kedungneng. Setia, salah seorang petani perempuan setempat, mengatakan sempat meragukan rekomendasi budidaya PM-AAS karena berbeda dengan praktik yang selama ini diterapkannya.
BACA JUGA: Harga Sawit Plasma Riau Naik Rp26,56 Menjadi Rp4.011,82/Kg
Namun, keraguan tersebut berkurang setelah melihat pertumbuhan tanaman dan hasil panen.
“Alhamdulillah hasilnya bagus. Awalnya saya tidak percaya karena biasanya cara saya bertani tidak seperti ini. Tapi semakin hari pertanamannya tumbuh semakin bagus, dan ke depan Insya Allah saya mau lanjut lagi,” ujar Setia.
Hasil ubinan 10,43 ton GKP per hektare menunjukkan bahwa penerapan teknologi secara terpadu sejak persiapan lahan hingga panen dapat meningkatkan potensi hasil. Sistem tanam jajar legowo, pemupukan berimbang, dan pengelolaan air secara berselang melalui metode AWD menjadi bagian dari paket teknologi yang diterapkan.
BACA JUGA: Harga Sawit Swadaya Riau Naik Rp23,35/Kg, Tembus Rp3.936,63 pada 5–11 Agustus
Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, mengatakan modernisasi diperlukan untuk menghadapi tantangan pembangunan pertanian ke depan.
“Kami percaya bahwa masa depan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga harus didukung oleh inovasi, teknologi, kolaborasi, dan kelembagaan petani yang kuat,” ujarnya.
Di Jawa Tengah, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) terus memperluas penerapan PM-AAS melalui perluasan areal, pendampingan teknis, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Turun Rp30,2 per Kg pada 7–13 Agustus 2026
Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif Surahman, mengatakan penerapan PM-AAS di provinsi tersebut ditargetkan mencapai 138.284 hektare hingga September 2026. Target tersebut menjadi bagian dari target nasional penerapan PM-AAS pada satu juta hektare lahan padi.
Selain dukungan alat dan mesin pertanian, program tersebut telah meningkatkan kapasitas sekitar 4.000 petani dan 300 aparatur melalui pelatihan, pendampingan, dan penguatan penerapan teknologi di lapangan.
Arif mengatakan keberhasilan PM-AAS tidak semata-mata diukur dari kenaikan hasil panen, tetapi juga dari kemampuan petani mengadopsi dan menerapkan teknologi secara mandiri.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Agustus Melonjak 36,66%, HPE Tembus USD 5.064/MT
Karena itu, BRMP Jawa Tengah akan terus memperkuat demonstrasi lapang, pelatihan, dan pendampingan untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara konsisten dan memberikan manfaat jangka panjang bagi petani.
Keberhasilan di Brebes menunjukkan bahwa modernisasi pertanian berpotensi meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani. Pemerintah menargetkan perluasan PM-AAS ke berbagai sentra produksi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional. (A3)