Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mendorong Toraja Utara dan Tana Toraja menjadi sentra kopi melalui penguatan keterampilan barista, hilirisasi produk, ekonomi kreatif, dan keterlibatan generasi muda.
AGRICOM, RANTEPAO – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mendorong pengembangan kopi Toraja dari sektor hulu hingga hilir dengan memperkuat keterampilan sumber daya manusia (SDM), pengolahan produk, dan ekonomi kreatif.
Dilansir dari sulselprov.go.id, dorongan tersebut disampaikan Fatmawati saat menghadiri Pelatihan Vocational Barista yang diselenggarakan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan UMKM (PLUT KUMKM) Provinsi Sulawesi Selatan di Gedung Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, kawasan Alun-Alun Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (26/9/2026).
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
Pelatihan tersebut diikuti belasan peserta yang memperoleh pendampingan langsung dari profesional barista. Kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi peserta penyandang disabilitas, termasuk peserta dengan kifosis, untuk memperoleh keterampilan di bidang pengolahan dan penyajian kopi.
Fatmawati mengatakan, Toraja Utara dan Tana Toraja memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi yang telah dikenal luas. Potensi tersebut, menurutnya, perlu diperkuat melalui peningkatan keterampilan agar kopi tidak berhenti sebagai komoditas bahan baku, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah melalui proses pengolahan hingga siap dikonsumsi.
“Bukan cuma memperkenalkan produk kita dari hulu ke hilir, pemerintah nasional saat sekarang ini mendorong hilirisasi. Saya punya angan-angan besar, cita-cita besar, bahwa di Toraja Utara dan Tana Toraja kita harus menjadikan sentra kopi,” kata Fatmawati, dikutip Agricom, Selasa (29/9/2026).
BACA JUGA: INSTIPER Luncurkan Sekolah Kopi Nusantara, Siapkan SDM Industri Kopi dari Hulu hingga Hilir
Toraja sebagai Sentra Kopi
Fatmawati menyebut Toraja Utara, Tana Toraja, dan Kabupaten Enrekang sebagai wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sentra kopi di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, penguatan kapasitas pelaku usaha dan generasi muda menjadi bagian penting agar potensi komoditas kopi dapat berkembang menjadi peluang ekonomi yang lebih luas.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Senin (28/9) Naik Jadi Rp15.075/Kg, Bursa Malaysia Turun
Ia juga berharap wisatawan yang berkunjung ke Toraja Utara maupun Tana Toraja tidak hanya menikmati keindahan alam dan destinasi wisata, tetapi turut membawa kopi lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata.
“Semua orang yang keluar dari Toraja Utara dan Tana Toraja harus membawa kopi,” ujarnya.
Pengembangan kopi, lanjut Fatmawati, juga membutuhkan ruang edukasi yang dapat mempertemukan masyarakat dengan produk kopi lokal. Kawasan publik seperti alun-alun dan kegiatan car free day dinilai dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan kopi, mulai dari pemilihan biji hingga proses pengolahan menjadi minuman.
BACA JUGA: RSPO Dorong Respons Terpadu Hadapi Kebakaran dan Asap di Indonesia
Kualitas Biji dan Keterampilan Barista
Fatmawati menekankan bahwa kualitas minuman kopi tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga kualitas biji kopi serta keterampilan dalam mengolahnya.
Karena itu, peserta pelatihan diminta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pengetahuan dari para pemateri, mulai dari proses roasting, pembuatan espresso, hingga berbagai jenis minuman berbasis kopi.
BACA JUGA: Industri Kakao Kolaka Utara Didorong Naik Kelas, Produksi Capai 62.260 Ton per Tahun
“Teman-teman harus gali sebanyak-banyaknya kepada pemateri tentang seperti apa, mulai dari roasting kopinya sampai bikin kopi espresso ataupun kopi-kopi lainnya yang enak,” katanya.
Ia juga berharap pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan tidak berhenti pada peserta. Keterampilan tersebut diharapkan dapat ditularkan kepada generasi muda, pekerja kreatif, dan pelaku usaha lainnya untuk memperluas basis SDM industri kopi di daerah.
“Saya berharap ilmu yang didapatkan hari ini bisa di-transfer knowledge, bisa dibagi lagi kepada kaum muda, anak muda yang pekerja kreatif, anak-anak muda entrepreneur yang bisa kita kembangkan lebih besar lagi untuk pengembangan kopi kita ini,” ujarnya.
BACA JUGA: Asri Lambo Jadi Ketua Umum Perpekindo, Siap Perjuangkan Kesejahteraan Petani Kelapa Indonesia
Kopi dan Pariwisata
Pengembangan industri kopi, menurut Fatmawati, dapat berjalan beriringan dengan sektor pariwisata. Kekayaan alam dan destinasi wisata di Toraja dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pengalaman wisata berbasis kopi lokal.
Dengan demikian, kopi tidak hanya diposisikan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan aktivitas pariwisata yang dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Senin (28/9) Naik Rp402, Tertinggi Rp45.637 per Kg
Pelatihan Vocational Barista PLUT KUMKM Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu upaya memperkuat keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi ekonomi lokal. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang keterlibatan generasi muda dan penyandang disabilitas dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif berbasis kopi. (A3)








