Harga CPO KPBN Inacom turun 0,22% menjadi Rp14.775 per kg pada Selasa (13/10/2026), sementara kontrak CPO Desember 2026 di Bursa Malaysia naik RM45 ke RM4.682 per ton. Kekhawatiran El Niño dan peningkatan permintaan biodiesel menopang harga global di tengah tekanan dari tingginya stok minyak sawit.
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom turun pada Selasa (13/10/2026). Harga penawaran tertinggi tercatat Rp14.775 per kg, turun Rp33 per kg atau 0,22% dibandingkan perdagangan Senin (12/10/2026) yang mencapai Rp14.808 per kg.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom dari KPBN, harga CPO Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp14.775 per kg. Sementara itu, harga CPO FOB Talang Duku mencapai Rp14.525 per kg dan Franco Teluk Bayur sebesar Rp14.575 per kg. Seluruh harga tersebut belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Also Read: Harga CPO KPBN Senin (12/10) WD Rp14.808/kg, Bursa Malaysia Menguat hingga RM53 per Ton
Penurunan harga tender domestik tersebut terjadi ketika pasar CPO global justru bergerak menguat. Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives berbalik naik setelah sempat melemah dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.
Dilansir Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Desember 2026 naik RM45 per ton atau sekitar 0,97% menjadi RM4.682 per ton, setara US$1.146,43 per ton. Harga penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 24 September 2026.
Penguatan harga di Bursa Malaysia didukung kekhawatiran terhadap potensi pengetatan pasokan pada 2027 akibat fenomena El Niño serta prospek peningkatan permintaan biodiesel. Kedua faktor tersebut mengimbangi tekanan dari tingginya persediaan minyak sawit saat ini.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ekspor Sawit Naik hingga 37,73%
Di sisi permintaan, prospek peningkatan konsumsi biodiesel turut memberikan dukungan terhadap harga CPO. Pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak nabati, meskipun perkembangannya tetap dipengaruhi harga energi dan kebijakan biodiesel di berbagai negara.
Namun, tingginya stok minyak sawit Malaysia masih menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan harga. Keseimbangan antara produksi, ekspor, konsumsi domestik, dan permintaan energi akan menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara itu, pergerakan harga minyak nabati lainnya menunjukkan arah yang beragam. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian, China, turun 0,65%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,77%.
Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat, menguat 0,55%. Perbedaan pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar minyak nabati global yang dipengaruhi kondisi pasokan, permintaan, dan persaingan antarproduk.
Di pasar energi, harga minyak mentah melemah ketika pelaku pasar mencermati risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap Arab Saudi sekaligus mempertimbangkan kemungkinan tambahan pasokan diesel dari Rusia.
Pelemahan harga minyak mentah berjangka berpotensi mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel karena dapat memengaruhi daya saing ekonomi bahan bakar berbasis minyak nabati terhadap bahan bakar fosil.
Berikut hasil tender KPBN Inacom untuk komoditas CPO, dalam rupiah per kg, belum termasuk PPN:
| Lokasi Tender | Harga (Rp/kg) | Keterangan |
| Franco Dumai | 14.775 | AGM |
| Loco PKS Luwu | — | Tidak ada penawar |
| CIF Pelabuhan Gresik | 14.775 | WD; penawaran Rp14.506 oleh WNI |
| Loco Bekri, Lampung | 14.675 | AMJP |
| FOB Talang Duku | 14.525 | AGM |
| Franco Teluk Bayur | 14.575 | WIRA |
| Loco PKS Parindu | 14.385 | EUP |
| Loco PKS Ngabang | 14.400 | EUP |
| Loco PKS Kembayan | 14.275 | EUP |
| CIF Pelabuhan Kijing | 14.775 | EUP |
Sumber: KPBN Inacom, diolah Agricom.
Pergerakan harga pada Selasa tersebut memperlihatkan perbedaan antara pasar domestik dan internasional. Harga CPO KPBN terkoreksi tipis, sementara kontrak berjangka di Bursa Malaysia menguat didukung prospek pasokan jangka menengah dan permintaan biodiesel. (A3)
