DSI menegaskan sistem ekspor baru yang mulai diluncurkan Januari 2027 akan memfasilitasi perdagangan, menjaga kontinuitas ekspor, dan memperkuat ketertelusuran minyak sawit Indonesia. Dalam forum RSPO, data satelit juga menunjukkan konsesi bersertifikat RSPO terdampak kebakaran hanya sekitar 0,8 persen dari total luas kebakaran nasional.
AGRICOM, JAKARTA – PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menegaskan Gerbang Ekspor Tunggal atau Single Export Gate untuk komoditas strategis Indonesia dirancang guna memperkuat transparansi, kepatuhan regulasi, dan kepercayaan pasar global terhadap minyak sawit nasional. Sistem yang dijadwalkan mulai diluncurkan pada Januari 2027 tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan penerapan standar keberlanjutan, termasuk sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
CEO DSI, Luke Mahony, mengatakan keberlanjutan dan akses pasar harus menjadi dua aspek yang saling mendukung. Menurutnya, kehadiran DSI bukan untuk menghambat aktivitas perdagangan, melainkan memfasilitasi ekspor sekaligus memperkuat standar industri dan kredibilitas minyak sawit Indonesia di pasar internasional.
BACA JUGA: RSPO, CPOPC dan Kadin Perkuat Kolaborasi Sawit Berkelanjutan
“Kami menyambut baik dialog dengan RSPO ini karena aspek keberlanjutan dan akses pasar harus berjalan beriringan. Mandat DSI sangat tegas: kami memfasilitasi, bukan menghambat. Kami hadir untuk menegakkan standar industri, mempermudah kepatuhan regulasi, serta memperkuat kepercayaan dunia terhadap minyak sawit Indonesia,” ungkap Mahony dalam dialog khusus pada konferensi RSPO.
DSI merupakan perusahaan yang didirikan Danantara Indonesia pada 2026 untuk mengawasi dan mengelola ekspor komoditas strategis. Melalui model perantara yang akan diterapkan, DSI menargetkan terciptanya sistem perdagangan yang lebih transparan dengan memanfaatkan data dalam ekosistem industri serta menghubungkannya dengan kondisi pasar, termasuk aspek keberlanjutan, pasokan, harga, dan produksi.
Dalam model tersebut, hubungan bisnis antara pembeli dan penjual tetap dipertahankan. DSI berperan menjaga kontinuitas ekspor sekaligus memperkuat rantai ketertelusuran produk agar minyak sawit Indonesia semakin dipercaya pembeli global.
BACA JUGA: RSPO Tegaskan Komitmen Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penanganan Krisis Kebakaran di Indonesia
DSI dan RSPO Dorong Integrasi Keberlanjutan dengan Akses Pasar
Pembahasan peran DSI tersebut berlangsung di tengah perhatian internasional terhadap isu keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat selama periode El Niño 2026.
Dalam konferensi utama RSPO, CEO RSPO Joseph D’Cruz menanggapi kritik publik terhadap industri kelapa sawit dengan mendorong anggota organisasi tersebut menyampaikan data dan bukti nyata mengenai upaya pencegahan serta penanganan kebakaran.
BACA JUGA: RSPO Tegaskan Toleransi Nol Pembakaran, Perketat Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Jelang RT2026
Berdasarkan analisis satelit Nusantara Atlas yang dipaparkan pendiri TheTreeMap, Dr. David Gaveau, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai lebih dari 1,9 juta hektare selama Januari hingga September 2026.
Dari total tersebut, sekitar 14.500 hektare terjadi di dalam konsesi bersertifikat RSPO. Luasan itu setara sekitar 0,8 persen dari total area yang terbakar di Indonesia.
“Ketika kita mencermati kebakaran di dalam area konsesi bersertifikat RSPO dan melakukan verifikasi silang data tersebut dengan RSPO, kami mendapati 14.500 hektare lahan terbakar atau terdampak api di dalam konsesi-konsesi ini. Angka ini mencakup sekitar 0,8% dari total 1,9 juta hektare yang terbakar di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2026,” jelas David.
D’Cruz mengatakan RSPO akan mengidentifikasi dan menginvestigasi konsesi yang menunjukkan pola kebakaran tidak wajar. Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan analisis yang dipaparkan, tidak ditemukan lahan terbakar di area milik petani swadaya bersertifikat RSPO.
Menurutnya, hingga saat itu belum terdapat data atau bukti yang menunjukkan unit bersertifikat RSPO secara sengaja melakukan pembakaran.
D’Cruz meminta seluruh anggota RSPO lebih terbuka dalam menyampaikan fakta dan bukti mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mencegah serta menangani kebakaran.
“Kita semua harus menunjukkan kemauan untuk mempertahankan apa yang telah kita bangun. Ketika kita memilih diam, kita membiarkan pelaku-pelaku terburuk mendefinisikan industri kita dan merusak kerja keras selama dua dekade,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Riau 4–10 November 2026 Turun Jadi Rp3.762,61 per Kg
Petani Swadaya Dihubungkan dengan Pembeli Global
Selain isu kebakaran dan tata kelola ekspor, konferensi RSPO juga menyoroti pentingnya keterlibatan petani swadaya dalam rantai pasok minyak sawit berkelanjutan.
Petani kecil menghasilkan hampir separuh dari total produksi minyak sawit Indonesia. Indonesia juga menjadi tempat bagi sekitar 77 persen petani swadaya bersertifikat RSPO di dunia.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO November 2026 Turun 6,07% Jadi US$978,90/MT, BK Ditetapkan US$124 dan PE 12,5%
Dalam rangkaian RT2026, RSPO memberikan penghargaan kepada 45 kelompok petani swadaya baru dari Kolombia, Indonesia, Malaysia, Peru, dan Thailand yang berhasil menyelesaikan sertifikasi awal RSPO.
RSPO juga menyelenggarakan Independent Smallholder Business Matching untuk mempertemukan calon pembeli kredit dengan kelompok petani swadaya dari berbagai negara. Kegiatan ini bertujuan membuka akses pasar dan memperkuat insentif ekonomi bagi petani yang menerapkan praktik produksi berkelanjutan.
Sejumlah perusahaan mendapat apresiasi atas dukungan mereka melalui pembelian Kredit RSPO selama periode November 2025 hingga September 2026. Perusahaan tersebut meliputi Kao Corporation, Nestlé S.A., dan Unilever PLC.
Apresiasi juga diberikan kepada pembeli perdana, yakni Lakeland Dairies Co-operative Society Limited dan Pitak Palm Oil Company Limited.
Melalui penguatan sertifikasi, akses pembeli global, dan mekanisme perdagangan kredit, RSPO mendorong agar petani swadaya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari penerapan praktik perkebunan berkelanjutan.
Integrasi agenda keberlanjutan dengan sistem Gerbang Ekspor Tunggal yang disiapkan DSI menjadi salah satu perkembangan penting bagi industri sawit Indonesia. Sinergi keduanya diharapkan dapat memperkuat transparansi perdagangan, menjaga ketertelusuran rantai pasok, serta meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global. (A3)
