Harga CPO KPBN Inacom Jumat 6 November 2026 WD, Bursa Malaysia Anjlok 2,72% ke RM4.258 per Ton

AGRICOM
Dok. Agricom / Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik dan internasional mengalami tekanan pada Jumat (6/11/2026). Tender KPBN Inacom kembali berakhir withdraw (WD), dengan harga penawaran tertinggi CPO Franco Dumai Rp14.254 per kg, sementara kontrak Januari 2027 di Bursa Malaysia anjlok 2,72%.
Harga penawaran tertinggi CPO KPBN Inacom turun Rp294 menjadi Rp14.254 per kg. Tekanan pasar global mendorong kontrak CPO Januari 2027 di Bursa Malaysia terkoreksi 9,04% sepanjang pekan, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Desember 2024.

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom kembali mengalami withdraw (WD) pada Jumat (6/11/2026). Harga penawaran tertinggi CPO tercatat Rp14.254 per kg, turun Rp294 per kg atau 2,02% dibandingkan penawaran tertinggi Kamis (5/11/2026) sebesar Rp14.548 per kg.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Agricom dari KPBN Inacom, harga CPO Franco Dumai dibuka Rp14.500 per kg, tetapi berakhir WD dengan penawaran tertinggi Rp14.254 per kg.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Harga CPO KPBN 5 November 2026 Withdraw di Rp14.548/Kg, Bursa Malaysia Anjlok

Pelemahan juga terjadi pada penawaran CPO wilayah Kalimantan Barat. Harga FOB Kalbar dibuka Rp14.000 per kg dan berakhir WD dengan penawaran tertinggi Rp13.754 per kg.

Pada perdagangan minyak inti sawit atau crude palm kernel oil (CPKO), tender KPBN Inacom juga mencatatkan hasil withdraw di kedua lokasi penawaran.

Harga CPKO FOB Lampung dibuka Rp28.805 per kg, tetapi berakhir WD dengan penawaran tertinggi Rp23.000 per kg. Adapun CPKO FOB Palembang dibuka Rp28.635 per kg dan mengalami WD dengan penawaran tertinggi Rp27.200 per kg.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Anjlok hingga RM174 per Ton, KPBN Withdraw dengan Penawaran Tertinggi Rp14.548/Kg

Bursa Malaysia Anjlok, Terkoreksi 9,04% Sepekan

Tekanan harga CPO domestik sejalan dengan pelemahan perdagangan minyak sawit di pasar internasional. Bursa Malaysia Derivatives kembali mengalami penurunan tajam pada Jumat (6/11/2026), dipengaruhi melemahnya harga minyak kedelai di pasar global.

Dilansir Reuters, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari 2027 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun RM119 atau 2,72% menjadi RM4.258 per ton. Posisi tersebut merupakan harga penutupan terendah sejak 5 Maret 2026.

BACA JUGA: DSI Pastikan Gerbang Ekspor Tunggal Bukan Penghambat, tetapi Penguat Perdagangan Sawit

Sepanjang pekan perdagangan, kontrak Januari 2027 telah terkoreksi 9,04%. Penurunan tersebut menjadi koreksi mingguan terdalam sejak pertengahan Desember 2024 sekaligus memperpanjang pelemahan selama dua pekan berturut-turut.

Tekanan juga terjadi pada perdagangan minyak nabati di bursa internasional lainnya. Di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 1,41%, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 2,41%.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi 0,53%.

Pelemahan minyak kedelai menjadi salah satu faktor yang menekan harga CPO karena kedua komoditas tersebut bersaing dalam memenuhi kebutuhan pasar minyak nabati global. Ketika harga minyak kedelai turun, daya saing minyak sawit turut menghadapi tekanan.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO November 2026 Turun 6,07% Jadi US$978,90/MT, BK Ditetapkan US$124 dan PE 12,5%

Rincian Tender KPBN Inacom Jumat, 6 November 2026

Harga dalam rupiah per kilogram, tidak termasuk PPN.

CPO

Lokasi Harga pembukaan Penawaran tertinggi Pembeli Status
Franco Dumai 14.500 14.254 SPC WD
FOB Kalbar 14.000 13.754 EUP WD
Loco PKS Kembayan 14.000 13.754 EUP WD
Loco PKS Ngabang 14.125 13.879 EUP WD

CPKO

Lokasi Harga pembukaan Penawaran tertinggi Pembeli Status
FOB Lampung 28.805 23.000 KLKD WD
FOB Palembang 28.635 27.200 IKIN, AMJP WD

Koreksi harga CPO di Bursa Malaysia yang diikuti penurunan penawaran tertinggi KPBN Inacom menunjukkan tekanan yang cukup kuat pada perdagangan minyak sawit menjelang pekan berikutnya. Perkembangan harga minyak nabati pesaing masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar. (A3)

Pos terkait