Harga MINYAKITA di Pasar Nusukan tercatat Rp15.700 per liter, sesuai dengan HET, sementara sejumlah komoditas pangan masih berada di atas harga acuan pemerintah.
AGRICOM, SURAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan serta stabilitas harga barang kebutuhan pokok (bapok). Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan langsung kondisi pasar, salah satunya di Pasar Nusukan, Surakarta, Jawa Tengah.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri bersama Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto meninjau Pasar Nusukan pada Sabtu pagi (5/9/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi pasokan dan perkembangan harga sejumlah komoditas pangan, termasuk minyak goreng MINYAKITA yang menjadi salah satu komoditas prioritas pengawasan Kemendag.
BACA JUGA: Indonesia Kuasai 53,41% Pasar Pala Dunia, Tapi Ekspor Masih Terkendala Mutu
“Pagi hari ini Kemendag bersama Wali Kota Surakarta, jajaran Pemkot, Bapanas, Satgas Pangan, Perum BULOG dan ID FOOD memantau pasokan dan stabilitas harga bahan pokok. Setelah kami cek, harga MINYAKITA berada di angka Rp15.700 per liter, sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET),” ujar Wamendag Roro, dikutip Agricom dari Kemendag, Selas (8/9).
Ia berharap kondisi pasokan tetap terjaga dan harga bapok dapat dikendalikan melalui koordinasi intensif antara pemerintah pusat dan daerah.
Harga Bapok Relatif Terkendali
Selain MINYAKITA, pemantauan dilakukan terhadap sejumlah komoditas di bawah pengawasan Badan Pangan Nasional (Bapanas), seperti cabai rawit merah, cabai merah keriting, beras, telur, bawang merah, dan bawang putih.
Roro mengatakan secara umum harga pangan di Pasar Nusukan masih relatif terkendali. Namun, terdapat kenaikan pada komoditas cabai rawit merah.
“Secara umum harga relatif terkendali. Tadi Wali Kota Surakarta juga menceritakan bahwa memang ada peningkatan daya beli masyarakat di Surakarta dan ini menjadi indikator yang sangat baik bagi perekonomian daerah,” katanya.
Menurut Roro, peningkatan daya beli perlu diimbangi dengan kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan pasokan sesuai kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut penting agar pertumbuhan permintaan tidak menimbulkan tekanan terhadap harga dan inflasi.
“Tugas kita bersama adalah memastikan pasokan di pasar terus menyesuaikan kebutuhan dan daya beli masyarakat sembari menjaga angka inflasi dapat terus terkendali,” tambahnya.
BACA JUGA: Kementan Siapkan Rp2,3 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan pada 2027
Pemkot Surakarta Perkuat Pengawasan
Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto menegaskan kesiapan pemerintah daerah dalam menjaga keterjangkauan harga sekaligus mencegah praktik spekulasi yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
Menurut Respati, Pemerintah Kota Surakarta secara rutin menggelar rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Dinas Perdagangan, instansi terkait, dan aparat penegak hukum.
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
“Untuk menjaga stabilitas harga, kami menggelar rapat koordinasi inflasi daerah setiap minggu bersama TPID, Dinas Perdagangan, instansi terkait, dan rekan-rekan Polri,” ujar Respati.
Ia mengatakan intervensi akan dilakukan apabila ditemukan kerawanan pasokan atau harga komoditas pokok yang berada di atas rata-rata pasar.
“Kami juga terus mengawasi agar di Surakarta tidak ada tindakan penimbunan yang menyebabkan lonjakan harga melampaui batas wajar,” tegasnya.
BACA JUGA: Anggaran Kementan Rp28,02 Triliun pada 2027, Bawang Putih Jadi Prioritas Baru
Sejumlah Komoditas Masih di Atas Harga Acuan
Kemendag mencatat sejumlah komoditas pangan nasional masih memerlukan perhatian karena harganya berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Pemerintah (HAP).
Untuk mengantisipasi gejolak harga, Perum BULOG dan sejumlah BUMN pangan, termasuk PT Berdikari dan PT PPI, terus mengoptimalkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta pendistribusian daging sapi secara langsung kepada pedagang pasar rakyat.
Berdasarkan pemantauan di Pasar Nusukan, harga minyak goreng curah tercatat Rp18.400 per liter, sedangkan MINYAKITA Rp15.700 per liter, sesuai HET. Minyak goreng kemasan premium berada di level Rp24.000 per liter.
Untuk komoditas pangan lainnya, harga gula pasir tercatat Rp18.000 per kg, di atas harga acuan Rp17.500 per kg. Harga daging sapi mencapai Rp145.000 per kg, juga di atas harga acuan Rp140.000 per kg.
Sementara itu, harga daging ayam ras berada di level Rp40.000 per kg, sesuai harga acuan. Harga telur ayam ras tercatat Rp24.000 per kg, bawang merah Rp28.000 per kg, dan bawang putih Rp36.000 per kg.
Untuk kelompok cabai, harga cabai merah besar tercatat Rp38.000 per kg, cabai merah keriting Rp35.000 per kg, dan cabai rawit merah Rp55.000 per kg.
Pantau Harga Secara Real-Time
Selain pemantauan langsung di pasar, Kemendag terus memantau perkembangan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Roro mengatakan sistem tersebut memberikan informasi mengenai perkembangan harga dan pasokan bapok di berbagai daerah sehingga pemerintah dapat merespons lebih cepat apabila terjadi gejolak.
“Pemantauan harga secara real-time juga terus dijalankan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), menghadirkan informasi yang komprehensif dalam melihat dinamika harga bapok di berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Jika ditemukan kendala pasokan atau lonjakan harga yang tidak wajar, Kemendag akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menentukan langkah penanganan.
“Jika ada kendala atau lonjakan harga tidak wajar, kami akan responsif menggandeng pemerintah daerah untuk mengambil langkah penyelesaian yang tepat,” tutup Wamendag Roro. (A3)

