Dikala Pandemi, Permintaan Edamame dan Porang Tercatat Masih Tinggi

Dikala Pandemi, Permintaan Edamame dan Porang Tercatat Masih Tinggi
Agricom.id

07 August 2021 , 06:19 WIB

Agricom.id, JAKARTA -  Selama masa pandemi covid-19, kegiatan ekspor komoditas pertanian Indonesia seolah tak terdampak, tercatat dari terus  melonjaknya permintaan akibat dipengaruhi gaya hidup masyarakat dunia dalam menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Produk pertanian seperti edamame dan porang tetap diminati negara tujuan ekspor.

Badan Karantina Pertanian (Barantan)Kementerian Pertanian RI memberikan dukungan kepada upaya peningkatan ekspor pertanian sesuai program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks). Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan RI, Bambang menjelaskan, sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terkait peningkatan ekspor pertanian tiga kali lipat (GRATIEKS) terus melakukan dorongan ekspor komoditas pertanian melalui berbagai aspek.

“Kami sangat terbuka dan mendukung ekspor produk andalan seperti edamame dan porang. Silakan menghubungi badan karantina pertanian di daerah masing-masing untuk berdiskusi dan berkoordinasi apabila ada kendala,” ujar Bambang, saat menjadi pembicara utama dalam Diskusi Webinar yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) bertemakan “Mendorong Ekspor Berbasis Kawasan", Sabtu, (7/8/2021).

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, Badan Karantina berupaya meningkatkan ekspor melalui berbagai kegiatan GRATIEKS, peningkatan informasi, dan menjalin kerjasama dengan entitas terkait baik di pusat maupun daerah. Harapannya agar dapat menambah kemanfaatan atau kesejahteraan bagi petani dan pelaku agribisnis.

Sementara, Erwan Santoso, Presiden Direktur PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) menuturkan, pihaknya mulai membudidayakan edamame sejenis kacang-kacangan yang memiliki protein dan antioksidan tinggi semenjak 2015 lalu,  GMIT membeli edamame dari para petani mitra dan menjualnya ke pasar domestik. Jenis produk edamame untuk pasar domestik antara lain edamame segar, edamame beku (edashi), mukimame (edamame kupas). Di pasar ekspor, perusahaan menjual produk edamame beku, mukimame, dan okra  beku.

“Tren pasar ekspor edamame sangatlah bagus. Di kala pandemi, ada kenaikan permintaan di negara tujuan ekspor. Baru tahun lalu, kami mulai ekspor edamame,”ujar Erwan.

Di dalam negeri, dikatakan Erwan, produk edamame segar menjadi pilihan konsumen yang sebagian besar diserap kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Pilihan produk segar menunjukkan pertumbuhan ketika munculnya pandemi Covid-19. “Sekarang ini, konsumen beralih kepada produk segar. Perusahaan dapat menjual ratusan ton edamame segara ke berbagai kota besar terutama Bali. Sebab, banyak wisatawan terutama asal Jepang yang mengunjungui Bali,” ujarnya.

Erwan menjelaskan perusahaan berkomitmen dan fokus kepada manajemen keamanan pangan (food safety). Konsep Food Safety ini menuntut kemampuan industri pengolahan menerapkan sistem keamanan pangan di setiap unit proses dan pengadaan bahan baku, sehingga produknya aman dikonsumsi. Dalam food safet ini melibatkan banyak dokuemen yang harus disediakan bagi tujuan ketertelusuran jika terjadi komplai atau ketidaksesuaian.

Pabrik edamame GMIT mencapai 6.000 ton per tahun telah menerapkan standar internasional dengan memerhatikan food safety, food quality, dan traceability.  Selain itu, perusahaan juga menjalin pola kemitraan KSO ditujukan mengubah perilaku petani dari cara konvensional menuju pertanian berbasis standar global sehingga dicapai hasil sesuai spesifikasi pembeli. Dalam program KSO, GMIT memberikan dukungan berupa teknik budidaya edamame, memberi bantuan modal, dan jaminan pasar.

Ketua DPW Pegiat Petani Porang Nusantara, Deny Welianto mengatakan, belum adanya standarisasi harga porang secara nasional. "Itu yang menjadi problem bagi petani untuk pengembangan budidaya porang secara masif," kata dia.

Selain itu, serapan pasar, tidak ada keseluruhan pabrik yang ada di wilayah tertentu. Saat ini ada kurang lebih sekitar 18-19 pabrik yang terpisah-pisah dan itu akan membuat jarak mobilisasi petani menjadi lebih berat, atau menambah biaya post produksi ketika panen. Di sektor budidaya, untuk mulai budidaya porang itu tidak harus skala besar atau satu hektar dua hektar. Memulai budi daya porang itu berkaitan dengan budget dan target.

Kepala UPT Karantina Pertanian Balikpapan, Abdul Rahman, yang mewakili Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, A.M Adnan meminta petani mulai menanam porang dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Pracliices (GHP), seperti yang persyaratan China. (A2)


TOP