Harga Porang Diramal Anjlok Sampai Rp3 Ribu Per Kg, Bagaimana Ini Pak Jokowi?

Harga Porang Diramal Anjlok Sampai Rp3 Ribu Per Kg, Bagaimana Ini Pak Jokowi?
Agricom.id

22 September 2021 , 06:10 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Pemerintah mendorong berkembangnya tanaman porang di dalam negeri. Karena dinilai punya nilai ekonomi yang mumpuni. Ternyata, banyak petani porang yang merugi karena harganya nyungsep. Lalu bagaimana solusinya?

Banyak pihak yang memprediksi bahwa beberapa tahun ke depan, harga porang anjlok sampai ke level Rp3 ribu per kilogram (kg). Padahal, banyak petani porang yang akan panen pertama pada tahun depan.

Direktur PT Sanindo, salah satu pabrik pengolahan porang di Jawa Barat, Dhian Rahadian, mengatakan, selain karena semakin banyak petani yang menjadi pemasok, masalah regulasi ekspor porang dinilai semakin mempersulit.

Hal ini tidak lepas dari persaingan perdagangan porang di pasar dunia. Saat ini, sejumlah negara sudah mulai membudidayakan porang seperti Myanmar, Thailand, atau Vietnam.

Untuk menstabilkan harga porang di dalam negeri, menurutnya, harus dibangun ekosistem bisnis porang yang baik. Sehingga, baik petani maupun industri tidak rugi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk asosiasi perusahaan pengolahan porang supaya harga bisa lebih mudah dikendalikan.

Tiga tahun silam, menurutnya, sempat ada pabrik yang memasang harga seenaknya yang terlampau tinggi. Tak pelak, hal ini membuat perusahaan lain menjadi kelabakan karena petani tentu akan mencari pabrik yang mau membeli porang mereka dengan harga tinggi juga.

“Sampai Sanindo pernah tidak berproduksi karena harga yang terlalu mahal itu sehingga tidak sanggup membeli bahan baku,” kata Dhian dalam diskusi Menjaga Stabilitas Harga dan Strategi Pemasaran Porang yang diadakan Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Senin (20/9/2021).

Selain itu, pola kerja sama antara pelaku bisnis porang juga perlu dibentuk. Seperti yang ada di Jawa Barat misalnya, dimana Sanindo telah melakukan kerja sama dengan kelompok-kelompok tani porang sebagai penyuplai bahan baku serta dengan Bank Jabar untuk memberikan dukungan finansial.

Dan dalam perjanjian kerja sama yang dibuat, ada salah satu klausul yang menyebutkan bahwa harga terendah porang harus lebih dari biaya produksi petani. “Sehingga selain mereka bisa mengembalikan KUR ke bank, mereka juga bisa dapat keuntungan,” ujar Dhian.

Selain itu, harga tertinggi juga dicantumkan dalam klausul perjanjian, sehingga tidak terjadi lagi permainan harga yang tidak sehat di antara perushaan pengolah porang seperti yang pernah terjadi beberapa tahun silam. “Ini salah satu model yang bisa digunakan supaya petani tidak panik dengan penurunan harga porang, begitupun dengan industrinya,” kata Dhian Rahadian.

Sementara itu, Direktur Porang Mulya Indonesia, sebuah perusahaan pengolahan porang di Nganjuk, Jawa Timur, Donny Mahendra, mengatakan bahwa sebenarnya harga Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu sebenarnya termasuk harga yang wajar. Namun nilai ini kemudian dibilang anjlok karena pada 2019 sampai 2020 terjadi kenaikan harga porang hingga Rp 14 ribu per kilogram.

Yang perlu dipahami menurut dia adalah, kenaikan ini disebabkan karena tingginya permintaan China yang saat itu banyak dilanda bencana sehingga produksi porang mereka anjlok.

Di sisi lain, kebutuhan porang mereka tetap sehingga mereka harus mendatangkan porang dari luar negeri sebanyak-banyaknya meski dengan harga tinggi. “Tapi harga itu kemudian jadi patokan petani, sehingga ketika harga jadi Rp 5 ribu atau Rp 6 ribu itu dianggap anjlok, padahal itu wajar,” kata Donny.

Sementara saat ini, bencana sudah selesai dan China serta beberapa negara lain juga sudah siap untuk masuk musim panen porang. Otomatis, harga jual porang juga mengalami penurunan.

Dia juga menampik adanya permainan harga baik oleh pabrik maupun eksportir, karena saat ini situasinya memang cukup sulit. Apalagi regulasi soal ekspor porang sampai sekarang juga belum benar-benar clear.

Saat ini, harga porang di tingkat petani menurutnya ada di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. Harga tersebut menurutnya sudah cukup baik, mengingat saat ini banyak pabrik pengolahan porang yang menonaktifkan operasionalnya karena situasi yang belum menentu seperti sekarang. “Di situasi sekarang enggak ada yang enggak susah, semua susah, jadi enggak ada yang namanya permainan harga,” ujarnya.

Yang pelu dilakukan menurutnya adalah mulai berpikir bagaimana supaya dengan harga yang ada sekarang, petani masih bisa untung. Entah nantinya diperbaiki cara budidayanya, pengolahan pascapanen, dan sebagainya. Antar elemen menurutnya juga perlu saling memahami situasi masing-masing, sehingga tidak ada lagi pihak yang saling menyalahkan. “Perlu ada harga wajar yang stabil, titik temu antara harga dari petani dan harga dari pabrikan,” kata Donny Mahendra.


 


TOP