Kopi Indonesia Sulit Kembangkan Pasar Ekspor karena Produksi Stagnant

Kopi Indonesia Sulit Kembangkan Pasar Ekspor karena Produksi Stagnant
Agricom.id

28 September 2021 , 06:35 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Menjadi negara penghasil kopi terbesar di dunia, bisa bukan berarti berkah. Selama, potensi itu tak dimanfaatkan dengan maksimal. Benar saja, kopi Indonesia sulit masuk ke pasar baru.

Ya betul, masih kopi Indonesia menghadapi sejumlah kendala dalam penetrasi pasar baru. Dan, Trade Expo Indonesia (TEI) belum bisa banyak membantu upaya ekspor kopi bagi pemain-pemain baru.

Ketua Bidang Kopi Speciality dan Industri Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, Moelyono Soesilo menjelaskan, pembelian kopi Indonesia didominasi buyer tetap.

“Kalau untuk kopi, mayoritas ekspor sudah ada buyer. Sudah ada kontrak. Kalau kontrak baru dari expo sangat jarang. Terkadang dicapai transaksi tetapi realisasinya tidak tahu. Yang didapat biasanya buyer reguler,” kata Moelyono, Senin (27/9/2021).

Upaya untuk menjangkau pasar yang lebih luas, kata Moelyono, juga terkendala oleh produksi kopi nasional yang stagnan. Dia mencatat produksi tahunan Indonesia hanya berkisar 12 juta kantong (1 kantong sama dengan 60 kilogram). Sehingga upaya untuk meningkatkan ekspor ke pasar-pasar baru, tidak bisa optimal. “Produksi yang stagnan ini juga membuat cost production kita lebih mahal dibandingkan dengan eksportir lain seperti Vietnam, Brasil, dan Kolombia,” kata dia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa volume ekspor komoditas kopi sepanjang 2019, berjumlah 359.093 ton. Naik dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2018 yang berjumlah 279.960 ton. Sementara pada 2020,, ekspor menembus 379.353 ton.

Moelyono menjelaskan, tingkat konsumsi dalam negeri turut memengaruhi volume kopi yang diekspor. Dia juga menyoroti kendala ekspor yang dihadapi pelaku usaha skala kecil. Dia mengatakan regulasi yang berlaku saat ini mewajibkan pelaku usaha mendaftarkan diri dan memenuhi syarat dokumen tertentu jika ekspor di atas 3 kilogram (kg).

Batas tersebut, kata dia, mempersulit kinerja ekspor skala UKM yang kapasitas produksinya belum besar. “Selain itu ekspor dalam jumlah kecil biayanya mahal. Biaya fumigasi untuk 1 kontainer berisi 18 ton sama dengan kontainer berisi 6 ton. Jadi pemain baru juga mempertimbangkan hal ini,” kata dia. (A3)


 


TOP