Kemendag & Bappenas Gagas Proyek Percontohan Gudang Korporasi Petani Senilai 50 Miliar

Kemendag & Bappenas Gagas Proyek Percontohan  Gudang Korporasi Petani Senilai 50 Miliar
Agricom.id

21 October 2021 , 07:23 WIB

Agricom.id, JAKARTA – Kementerian Perdagangan berkomitmen mendukung program pengembangan korporasi petani, khususnya untuk menyokong food estate (Kawasan Sentra Produksi Pangan/KSPP) dan penguatan kawasan sentra produksi pertanian, perikanan dan hewani. Bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kemendag menggagas proyek percontohan pembangunan gudang korporasi petani untuk komoditas bawang merah di KSPP Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Proyek percontohan gudang korporasi untuk bawang merah akan dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2022 sebesar Rp 50 miliar.

Demikian dinyatakan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga kala meninjau lahan KSPP berbasis hortikultura di Desa Ria-ria, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara pada, Sabtu (16/10), dalam keterangan tertulis diterima Agricom.id.

“Gudang dimaksud diharapkan menjadi sarana dan prasarana perdagangan utamanya sebagai sarana distribusi. Untuk itu, diperlukan sistem pengelolaan yang menjamin kepastian terkait arus barang masuk, penanganan komoditas di dalam gudang, prosedur penyimpanan, dan jalur pemasaran agar terciptanya usaha korporasi petani yang berkelanjutan,” jelas Wamendag.

Gudang korporasi petani yang akan dibangun melalui DAK TA 2022 ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain stasiun penerimaan, stasiun pembersihan, stasiun pengeringan, stasiun pengemasan, stasiun penyimpanan dan stasiun distribusi. “Pengelolaan gudang korporasi ini selanjutnya akan diserahkan kepada korporasi petani sebagaimana ini penjabaran lebih lanjut terkait penugasan yang terdapat dalam kebijakan nasional tematik KSPP,” urai Wamendag.

Dalam penjelasannya, Wamendag juga meminta komitmen kuat dari jajaran Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai pemimpin, pengayom, dan pendamping program gudang korporasi petani. Pertama, Pemkab Humbang Hasundutan diharapkan dapat segera menginventarisasi petani yang bersedia tergabung dalam kelembagaan pengelola gudang. Kedua, meningkatkan intensitas komunikasi kepada pemerintah pusat, baik Kemendag maupun Bappenas, terkait persiapan pelaksanaan baik pembangunan fisik, nonfisik, serta SDM guna mendukung optimalisasi pemanfaatan gudang secara berkelanjutan.

Melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), bentuk lain dukungan Kemendag untuk program pengembangan korporasi petani yaitu mendukung pembinaan dan pengembangan pemasaran produk. Dukungan tersebut termasuk untuk jangkauan pasar ekspor dan pembinaan standar mutu komoditas. Terkait alternatif pembiayaan, dapat juga menggunakan instrumen Sistem Resi Gudang. Kelembagaan korporasi diharapkan semakin bertumbuh dengan semakin baiknya dukungan administrasi dan kapasitas permodalan, khususnya dalam hal peningkatan skala ekonomi.

“Hal ini akan memberikan daya saing, baik harga maupun kualitas komoditas, sehingga secara umum, akan mampu meningkatkan nilai perdagangan dan penyediaan stok pangan untuk mendukung kestabilan konsumsi masyarakat,” tutur Wamendag.

Turut mendampingi dalam peninjauan yaitu tersebut yaitu Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor, anggota Komisi VII DPR Lamhot Sinaga, serta Direktur Sarana Distribusi dan Logistik Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan.

Temui Pelaku UMKM Tapsel

Sebelumnya, Wamendag Jerry menghadiri pertemuan dengan pelaku usaha di kantor Bupati Tapanuli Selatan, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada Jumat (15/10). Pertemuan diikuti 110 peserta yang terdiri dari pedagang kecil, pelaku UMKM, perajin tenun dan batik Tapanuli Selatan serta pengusaha kopi dan himpunan penggiat kopi.  Wamendag menyatakan, Kemendag akan terus melanjutkan program-program pemberdayaan UMKM.

“Kemendag hadir dengan tindakan nyata untuk memberdayakan, bahkan membantu UMKM bisa mengekspor produknya. Melalui Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia di bawah Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, pelaku UMKM dapat mengikuti berbagai pelatihan,” jelas Wamendag.

Adapun terkait pasar rakyat, Wamendag juga menjelaskan, Kemendag telah membangun/merevitalisasi pasar rakyat di Tapanuli Selatan, baik melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun dana Tugas Perbantuan dengan total anggaran senilai Rp 39,5 miliar pada 2011—2021.

Selain revitalisasi pasar rakyat secara fisik, lanjut Wamendag, Kemendag juga melakukan revitalisasi secara nonfisik, seperti menggelar pelatihan untuk pengelola pasar dan lokakarya SNI Pasar Rakyat. Tujuannya ialah meningkatkan kemampuan pengelola pasar rakyat agar pengelolaan pasar rakyat dapat berjalan dengan baik dan memiliki daya saing.

Untuk pedagang pasar rakyat, Kemendag melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri menggelar sekolah pasar guna menambah pemahaman dan kompetensi pedagang sejak 2014. Materi yang diberikan berkisar dari akses informasi permodalan, peningkatan perilaku hidup bersih, pengelolaan kas, penataan barang dagangan, hingga penerapan protokol kesehatan di pasar rakyat. Sebanyak 6.260 pedagang di 177 pasar rakyat telah mengikuti Sekolah Pasar.

“Peningkatan kompetensi pedagang pasar rakyat diharapkan juga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat  untuk  berbelanja  di  pasar  rakyat serta  menjadi  tempat  aman dan nyaman bagi  pedagang meningktkan pendapatan. Selain itu, diharapkan mampu mendukung kelancaran logistik dan barang kebutuhan masyarakat serta menjadi tempat  pemasaran produk unggulan dan UMKM di daerah,”  urai Wamendag.

Wamendag juga mengunjungi pameran Gebyar UMKM di alun-alun Pasar Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Menurutnya, UMKM harus tetap optimistis dan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas produknya agar dapat tampil di arena lokal dan internasional. (A2)

 


TOP