Dewan Teh & Solidaridad Dorong Peningkatan Pemasaran Ekspor Teh Indonesia

Dewan Teh & Solidaridad Dorong Peningkatan Pemasaran Ekspor Teh Indonesia
Agricom.id

01 November 2021 , 06:49 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Dewan Teh Indonesia bersama dengan Solidaridad Indonesia menyelenggarakan kegiatan lokakarya dan pertemuan bisnis yang bertajuk “Sinergi Peningkatan Pemasaran Ekspor Teh Indonesia”. pada Sabtu, (30 Oktober 2021) di Jakarta.

Dihadiri oleh eksportir-eksportir besar tingkat nasional dan global, seperti Van Rees, Trijasa, Unilever, Finlays, St. Clair Teas, Yoosuf Akbani, serta produsen teh lokal seperti PTPN, Tambi, Pagilaran, Kapebe Chakra. Acara dibuka oleh Ketua Umum Dewan Teh Indonesia, Rachmad Gunadi, dan Ketua Yayasan Solidaridad Network Indonesia, Delima Hasri Darmawan.

Teh termasuk komoditas sub-sektor unggulan milik perkebunan nasional yang hingga saat ini turut berkontribusi dalam perekonomian nasional. Antara lain sebagai penyumbang devisa negara yang ditandai dengan kinerja ekspor sebesar US$ 92 juta di tahun 2019 dan perannya dalam pengembangan UMKM nasional.

Selain peran ekonomi, teh juga memiliki peran sosial-budaya dan lingkungan yang sangat besar. Industri perkebunan teh mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu pekerja, dan telah  menghidupi lebih dari 1 juta jiwa. Manfaat teh bagi kesehatan dan nilai sejarah serta budaya juga sangat melekat pada komoditas ini. Dalam aspek lingkungan, teh berperan nyata dalam konservasi tanah sebagai penahan laju erosi dan memiliki ecosystem services lainnya yang tak ternilai.

Namun secara nasional, kondisi bisnis teh saat ini, baik di hulu dan di hilir, sangat memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan gambaran data selama sepuluh tahun (2009-2019) dimana, total area menurun rata-rata 1.126 ha/thn atau 1,05 %/thn, dengan total produksi menurun rata-rata 2.460 Ton/thn atau 1,88% per/thn.

Sementera total ekspor menurun rata-rata 4.499 ton/thn atau 7,40 %/thn, lantas total impor meningkat rata-rata 857,9 ton/thn atau 8,76 %/thn.

Kondisi ini secara tidak langsung menunjukkan industri teh nasional mulai kehilangan keunggulannya. OEC (2021) mencatat di tahun 2019 walau nilai RCA (Revealed Comparative Advantage) masih diatas angka 1, namun nilai ECI (Export Competitiveness Index) berada jauh dibawah angka 1. Ini mengindikasikan bahwa produk teh ekspor Indonesia sedang menghadapi penurunan pangsa pasar di pasar teh dunia akibat melemah daya saingnya. (A2)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP