Sawit Topang Ekonomi Indonesia Selama Pandemi

Sawit Topang Ekonomi Indonesia Selama Pandemi
Dok. Agricom

02 December 2021 , 18:50 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Selama pandemi covid-19, industri kelapa sawit taercatat mampu berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat dan negara sehingga perekonomian Indonesia kini masih menunjukkan perkembangan positif. Selain menghasilkan devisa yang signifikan, industri kelapa sawit juga berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung.

dikatakan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, para pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit punya peran besar dalam membantu perekonomian masyarakat. “Bahkan, sektor ini mampu mempertahankan 16,2 juta tenaga kerja yang  tergantung didalamnya ditengah pandemi yang telah berlangsung selama hampir dua tahun,” kata Airlangga Hartarto saat memberikan sambutan dalam pembukaan dalam 17th Indonesian Palm Oil Conference and 2022 Price Outlook, yang dihadiri Agricom.id, Rabu (1/11/2021).

Menurut Menko, pemerintahan Jokowi memiliki visi agar industri sawit Indonesia dapat menjadi produsen sawit terkemuka dengan mendorong hilirisasi atau pengembangan produk turunannya. Dengan luasan lahan 10% dari total lahan global untuk minyak nabati, Airlangga memperkirakan Indonesia mampu menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar dan menguasai sebagian pangsa pasar minyak sawit dunia. 

Dibandingkan dengan minyak nabati lain seperti biji bunga matahari, sawit lebih kompetitif. Selain luasan lahannya tidak sebesar perkebunan biji bunga Matahari, produktivitas yang dihasilkan perkebunan sawit di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. “Industri kelapa sawit juga punya kontribusi pada ekspor nasional sebesar 15,6% dari total ekspor di tahun 2020. Nilai tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa yang secara konsisten terus meningkat meskipun di masa pandemi,” kata Airlangga.

Hingga kini, luasan tutupan kelapa sawit nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2019 teridentifikasi sebesar 16,38 juta hektar dengan rincian, perkebunan sawit rakyat sebesar 41%, perkebunan besar negara sebesar 6%, dan perkebunan besar swasta nasional sebesar 53%. Airlangga juga menegaskan bahwa program peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi krusial sebagai upaya peningkatan produktivitas dan penguatan sumber daya manusia, serta meningkatkan kesejahteraan petani. 

Senada dengan Erlangga, ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono yakin tahun depan, industri sawit akan terus memberikan kontribusi besar bagi terutama dalam pemulihan ekonomi berkelanjutan. “Kami yakin di tahun mendatang, industri kelapa sawit akan tetap menjadi kontributor besar bagi neraca perdagangan Indonesia” Tegas Joko.

Menurut Joko, permintaan kelapa sawit akan terus meningkat, terutama pada saat krisis energi di sejumlah negara diantaranya China dan Inggris. 

“Terjadinya krisis energi di beberapa negara saat ini, membuka peluang bagi energi terbarukan berbasis kelapa sawit seperti biodiesel akan menjadi solusi sekaligus alternatif yang berkelanjutan” tegas Joko. (A2)


TOP