Perhitungkan Risiko Program Green Fuel Berbasis Minyak Sawit

Perhitungkan Risiko Program Green Fuel Berbasis Minyak Sawit
Dok. Agricom

10 December 2021 , 12:50 WIB

Agricom.id, JAKARTA –  Saat ini pemerintahan Presiden Jokowi sedang berupaya melakukan peningkatan campuran minyak solar dengan biodiesel sawit (FAME), serta melakukan pengembangan green fuels, sebagai upaya dalam kemandirian energi. Wajar bilamana program ini masuk ke Proyek strategis nasional (RPJMN 2019-2024), lantas dilanjutkan dengan melakukan pembangunan green refinery oleh Pertamina di Plaju dan Cilacap.

Namun demikian, diungkapkan Peneliti Sustainable Palm Oil Support Indonesia (SPOSI), M Ichsan Saif, program tersebut membutuhkan dana insentif yang tidak sedikit lantaran dengan kebutuhan lebih tinggi, terlebih HIP green fuels mencapai Rp 14-17 ribu per liter supaya harga Biodiesel bisa mencapai Rp 10-11 ribu per liter. "Pada saat ini juga terjadi perubahan struktur rantai pasok dan aktor," katanya dalam acara FGD SAWIT BERKELANJUTAN VOL 11, bertajuk “Minyak Sawit Sebagai Minyak Nabati Berkelanjutan Terbesar Dunia”, yang diadakan media InfoSAWIT, Kamis (9/12/2021) secara online.

lebih lanjut tutur Ichsan Saif, alasan pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) sawit guna memperbaiki ketahanan energi dan defisit neraca perdagangan BBM bisa saja diterima, termasuk sebagai upaya dalam menjaga harga minyak sawit global akibat kontroversi sawit global dan kelebihan pasokan minyak sawit.

Hanya saja ada resiko yang harus dipertimbangkan, semisal kemampuan dana BPDPKS untuk mensubsidi biodiesel sampai sejauh mana, dan juga greenfuels ke depannya akan seperti apa?, lantas berpotensi terjadi kompetisi pasar antara biodiesel, green fuel, dan electric vehicle. “Terpenting akan ada peningkatan kebutuhan akan lahan,” tandas dia . (T2)

 


TOP