Produksi Diproyeksi Naik, Pemerintah Siapkan Serapan Beras Hingga 2,5 Juta Ton pada Panen Raya 2026

Produksi Diproyeksi Naik, Pemerintah Siapkan Serapan Beras Hingga 2,5 Juta Ton pada Panen Raya 2026
Agricom.id

03 January 2026 , 07:02 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan penyerapan beras hingga 2,5 juta ton pada panen raya 2026 untuk memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah dan menjaga harga gabah tetap menguntungkan petani. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menyambut panen raya 2026 dengan mengoptimalkan penyerapan beras nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan serapan beras sebesar 2 hingga 2,5 juta ton sebagai bagian dari penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sekaligus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.

Target tersebut disampaikan Mentan Amran usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Penetapan CPP Tahun 2026 yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025). Menurutnya, penyerapan beras dalam jumlah besar menjadi langkah strategis menghadapi panen raya yang diperkirakan datang lebih awal pada 2026.

“Pada panen raya nanti, minimal kita serap 2 juta ton, dan kalau memungkinkan bisa mencapai 2,5 juta ton,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan.

BACA JUGA: 

- Tandatangani FTA, Indonesia–EAEU Buka Babak Baru Perdagangan Komoditas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan

- Pupuk Bersubsidi Resmi Bisa Ditebus Mulai 1 Januari 2026, Pemerintah Pastikan Stok Aman

Ia menjelaskan, target serapan tersebut sejalan dengan proyeksi peningkatan produksi beras nasional pada 2026. Pemerintah juga berencana memperkuat cadangan nasional dengan menaikkan Cadangan Beras Pemerintah dari sebelumnya 3 juta ton menjadi 4 juta ton.

Dalam pelaksanaannya, Perum Bulog akan memegang peran sentral sebagai ujung tombak penyerapan hasil panen petani. Peran Bulog dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga, sekaligus memastikan kehadiran negara sebagai penyangga pasar pangan strategis.

“Bulog memegang stok. Ini berlaku untuk beras, minyak goreng, dan komoditas pangan lainnya. Negara hadir sebagai stabilisator,” tegasnya.

Mentan Amran menambahkan, penguatan serapan beras menjadi kunci agar panen raya tidak berujung pada tekanan harga di tingkat petani. Dengan cadangan yang kuat, pemerintah dapat memastikan hasil produksi petani terserap secara optimal dan memberikan kepastian pendapatan.

BACA JUGA: 

- Harga Referensi Biji Kakao Januari 2026 Turun 5,27% akibat Lonjakan Pasokan Afrika Barat

- Harga Referensi Minyak Sawit (CPO) Periode Januari 2026 Turun ke USD 915,64 per Ton

Saat ini, kondisi stok beras nasional dinilai sangat aman. Hingga akhir Desember 2025, stok beras nasional tercatat mencapai 3,39 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka.

“Ini stok tertinggi sepanjang sejarah. Jadi memasuki 2026, kondisinya bukan hanya aman, tetapi sangat aman,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memastikan kesiapan sarana produksi, khususnya pupuk. Untuk tahun 2026, alokasi pupuk nasional ditetapkan sebesar 9,5 juta ton, dengan harga yang telah diturunkan sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan target serapan yang jelas, stok nasional yang kuat, serta dukungan kebijakan lintas sektor, Kementerian Pertanian optimistis panen raya 2026 akan menjadi momentum penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP