Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kunci pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, menegaskan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dan penguatan sektor pertanian nasional. Foto: Istimewa
AGRICOM, DAVOS, SWISS — Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan baru pangan dunia dalam pidato kuncinya pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). Di hadapan para pemimpin global, pelaku usaha, dan tokoh internasional, Prabowo menyampaikan capaian strategis Indonesia dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Presiden mengungkapkan, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi tertinggi sepanjang sejarah. Bahkan, target swasembada yang sebelumnya diproyeksikan empat tahun, mampu direalisasikan hanya dalam waktu satu tahun.
BACA JUGA: Bangkitkan Kelapa Nasional, Kementan Fokus Replanting Kebun Rakyat dan Percepat Hilirisasi
“Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, produksi beras kami mencapai level tertinggi dalam sejarah Indonesia. Target swasembada empat tahun, berhasil kami capai hanya dalam satu tahun,” tegas Presiden Prabowo dalam forum global tersebut, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (25/1).
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, produksi beras nasional sepanjang Januari–Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,71 juta ton, tumbuh 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan produksi ini menjadi fondasi penting bagi penguatan ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
BACA JUGA: Harga Referensi Minyak Sawit (CPO) Periode Januari 2026 Turun ke USD 915,64 per Ton
Peningkatan produksi berdampak langsung pada penguatan cadangan beras pemerintah. Sepanjang 2025, stok beras Perum Bulog tercatat mencapai 3,25 juta ton, bahkan sempat menyentuh 4,2 juta ton pada Juni 2025—level tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan stok nasional.
Kinerja positif juga tercermin pada komoditas jagung. Produksi jagung nasional periode Januari–Desember 2025 mencapai 16,11 juta ton, meningkat 6,44 persen atau sekitar 0,97 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan surplus sekitar 0,46 juta ton, Indonesia tercatat tidak melakukan impor jagung pakan, menandai semakin kuatnya kemandirian pangan dan pakan dalam negeri.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Relatif Stabil di Rp 14.800/Kg Pada Jumat (23/1)
Dari sisi makro, sektor pertanian mencatatkan capaian historis. Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian pada Triwulan I-2025 tumbuh 10,52 persen, tertinggi sepanjang sejarah. Sementara pada Triwulan III-2025, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional mencapai 14,35 persen, menempatkannya sebagai sektor penyumbang terbesar kedua setelah industri pengolahan.
Penguatan sektor hulu juga berdampak pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 mencapai 125,35, tertinggi sepanjang sejarah. Rata-rata NTP tahun 2025 berada di level 123,26, tertinggi dalam 33 tahun terakhir, mencerminkan membaiknya daya beli sekaligus posisi tawar petani.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari langkah reformasi regulasi yang agresif. Pemerintah, menurutnya, telah memangkas ratusan aturan yang dinilai menghambat efisiensi dan membuka ruang ketidakadilan.
“Kami menghapus ratusan regulasi yang tidak masuk akal, yang menghambat keadilan, dan menciptakan budaya inefisiensi. Semua itu kami lakukan hanya dalam satu tahun,” ujarnya.
Sejalan dengan agenda reformasi, pemerintah juga menyederhanakan tata kelola pupuk bersubsidi melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025, yang memangkas dan menyederhanakan sekitar 145 regulasi serta memotong rantai birokrasi panjang yang selama ini menjadi keluhan petani.
Presiden menekankan, penguatan sektor pangan merupakan bagian dari visi besar Indonesia untuk keluar dari jebakan kemiskinan dan kerentanan pangan.
“Indonesia memiliki visi yang jelas untuk menyediakan kualitas hidup yang baik bagi seluruh rakyatnya—hidup bebas dari kemiskinan dan kelaparan,” kata Prabowo.
Ke depan, pemerintah optimistis Indonesia akan mencapai swasembada komoditas strategis lainnya. Presiden menyebut jagung, gula, dan sumber protein sebagai target berikutnya dalam empat tahun mendatang.
“Saya yakin dalam empat tahun ke depan kita akan swasembada untuk produk pangan lainnya: jagung, gula, dan protein,” tegasnya.
Capaian swasembada beras dan penguatan produksi berbagai komoditas ini semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang kian mandiri secara pangan, sekaligus memperkokoh ketahanan nasional di tengah ancaman krisis pangan global dan tekanan perubahan iklim. (A3)