Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Ringgit Menguat dan Pasar Dalian Tertekan

Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Ringgit Menguat dan Pasar Dalian Tertekan
Agricom.id

13 February 2026 , 13:06 WIB

Harga kontrak CPO April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun menjadi RM4.037 per ton, memperpanjang pelemahan tiga sesi beruntun. Tekanan datang dari penguatan ringgit serta koreksi harga minyak nabati di Dalian. Foto: Agricom

 

AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali ditutup melemah untuk sesi ketiga berturut-turut pada perdagangan Kamis (12/2/2026).

Tekanan pasar datang dari kombinasi penguatan mata uang ringgit, pelemahan harga minyak nabati di bursa Dalian, serta absennya sentimen positif dari konferensi industri utama yang digelar di Kuala Lumpur.

Dikutip dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman April 2026 tercatat turun RM24 per ton atau terkoreksi 0,59% menjadi RM4.037 per ton, setara sekitar US$1.035,39 per ton. Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung sejak awal pekan.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (12/2) Turun ke Rp 14.208/kg

Dari sisi nilai tukar, ringgit—mata uang utama dalam perdagangan CPO Malaysia—menguat 0,31% terhadap dolar AS. Penguatan ini secara teknis membuat harga sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga berpotensi menekan permintaan ekspor dalam jangka pendek.

Tekanan tambahan juga datang dari pasar minyak nabati global. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,22%, sementara kontrak minyak sawitnya terkoreksi lebih dalam hingga 1,5%.

Sebaliknya, harga soyoil di Chicago Board of Trade justru bergerak naik 0,81%, menunjukkan pergerakan yang beragam di antara komoditas minyak nabati utama dunia.

BACA JUGA: 

- Dari Jakarta ke Kebun Kopi: Perjalanan Diva Tanzil Menguatkan Petani Lewat Stronger Coffee Initiative

- Regenerasi Lahan, Regenerasi Petani: LDC Perluas Pertanian Kopi Berkelanjutan di Indonesia

Perbedaan arah tersebut mencerminkan dinamika suplai–permintaan global yang masih fluktuatif. Bagi pelaku pasar CPO Malaysia, kombinasi penguatan ringgit dan tekanan eksternal dari Dalian menjadi faktor dominan yang membatasi ruang penguatan harga dalam jangka pendek.

Tanpa katalis positif baru—baik dari sisi kebijakan, permintaan impor utama, maupun sentimen industri—pergerakan CPO diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP