Harga CPO acuan April 2026 turun ke RM4.008 per ton, mengikuti pelemahan minyak nabati global serta sentimen kebijakan dan libur panjang di Tiongkok. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global kembali melemah pada perdagangan Jumat, melanjutkan tren koreksi yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir.
Mengutip laporan Reuters, kontrak CPO acuan untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM29 per ton atau sekitar 0,72% menjadi RM4.008 per ton hingga jeda tengah hari. Secara mingguan, harga telah terkoreksi sekitar 3,51%, memperpanjang tekanan dalam dua pekan terakhir.
Pelemahan ini terjadi seiring tekanan di pasar minyak nabati global. Di Tiongkok, kontrak minyak kedelai paling aktif di bursa Dalian turun 0,86%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah lebih dalam sebesar 1,54%. Di Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga terkoreksi 0,33%.
BACA JUGA:
- Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Ringgit Menguat dan Pasar Dalian Tertekan
- Tren Positif Berlanjut, Harga Karet SGX–Sicom Jumat (12/2) Tembus Rp 32.228 per Kg
Secara historis, pergerakan harga CPO cenderung mengikuti dinamika minyak nabati pesaingnya, terutama minyak kedelai, karena keduanya bersaing ketat dalam pangsa pasar minyak nabati global. Ketika harga kompetitor melemah, tekanan terhadap CPO biasanya ikut meningkat.
Sentimen pasar juga dibayangi oleh penutupan pasar Tiongkok dalam rangka libur Tahun Baru Imlek pada 16–23 Februari. Libur panjang ini berpotensi menekan aktivitas perdagangan dalam jangka pendek dan mengurangi volume transaksi.
Dari sisi kebijakan, Malaysia menetapkan kenaikan harga referensi CPO untuk periode Maret. Namun demikian, langkah tersebut tidak diikuti perubahan bea keluar, yang tetap dipertahankan sebesar 9% sebagaimana tercantum dalam surat edaran resmi di situs Malaysian Palm Oil Board.
BACA JUGA:
- Harga CPO KPBN Inacom Kamis (12/2) Turun ke Rp 14.208/kg
- LDC Perkuat Ekosistem Kopi Nasional Melalui Pertanian Regeneratif dan Berkelanjutan
Sementara itu, dari Indonesia, keputusan pemerintah untuk menunda ekspansi program biodiesel turut menjadi faktor yang membebani sentimen pasar. Sejumlah analis menilai penundaan tersebut, ditambah ekspektasi peningkatan produksi dalam beberapa bulan mendatang, berpotensi memberikan tekanan tambahan pada harga sawit.
Meski demikian, permintaan global yang masih relatif solid serta perlambatan pertumbuhan produksi dunia diperkirakan dapat menahan koreksi agar tidak berlangsung terlalu dalam. Pasar kini bergerak dalam fase konsolidasi, dengan pelaku usaha menunggu katalis baru dari sisi kebijakan, permintaan ekspor, maupun perkembangan produksi regional. (A3)