Harga CPO di Bursa Malaysia ditutup lebih rendah pada Senin (23/2/2026), tertekan penguatan ringgit dan penurunan ekspor, sementara sentimen negatif dari pasar kedelai global turut membebani pergerakan kontrak. Foto: Agricom
AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Senin (23/2/2026). Pelemahan ini dipicu kombinasi kinerja ekspor yang lebih lunak serta penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat harga menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Mengutip dari Bernama, trader proprietary Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyampaikan bahwa apresiasi mata uang lokal Malaysia telah meredam minat beli dari negara-negara pengimpor utama. Kondisi tersebut memperlambat laju pengapalan dan menekan sentimen pasar dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 18–24 Februari Naik Menjadi Rp 3.565,77/kg
Pada pukul 18.00 waktu setempat, ringgit tercatat menguat ke level 3,8885/8925 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan Jumat di kisaran 3,8995/9055. Penguatan ini secara langsung meningkatkan harga CPO dalam denominasi dolar, sehingga mengurangi daya saing ekspor Malaysia.
Tekanan tambahan datang dari data ekspor. Berdasarkan estimasi Intertek Testing Services (ITS), ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1–20 Februari 2026 mencapai 863.358 ton, turun 8,92% dibandingkan estimasi periode 1–20 Januari 2026.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 20–27 Februari 2026 Turun menjadi Rp 3.588,16/kg
Sementara itu, AmSpec memperkirakan volume ekspor berada di level 779.834 ton, atau merosot 12,62% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Penurunan dua versi data tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap prospek permintaan, khususnya dari pasar utama seperti China dan India.
Sentimen pasar juga terbebani oleh tekanan eksternal. Aksi long liquidation pada kontrak berjangka minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) sejak akhir pekan lalu ikut menyeret harga CPO, mengingat kedelai dan sawit merupakan komoditas substitusi di pasar minyak nabati global.
BACA JUGA: Komitmen Dagang RI–AS Tembus USD 38,4 Miliar, Sektor Agro dan Industri Manufaktur Jadi Motor Utama
Pergerakan Kontrak dan Volume Perdagangan
Pada penutupan perdagangan:
- Kontrak Maret 2026 turun RM12 menjadi RM4.051 per ton.
- Kontrak April 2026 melemah RM6 menjadi RM4.081 per ton.
- Kontrak Mei 2026 terkoreksi RM9 menjadi RM4.083 per ton.
- Kontrak Juni 2026 turun RM14 menjadi RM4.082 per ton.
- Kontrak Juli dan Agustus 2026 masing-masing merosot RM26 menjadi RM4.074 dan RM4.073 per ton.
Selain harga, aktivitas perdagangan juga mengalami perlambatan. Volume transaksi turun menjadi 62.122 lot, dibandingkan 81.717 lot pada Jumat. Posisi terbuka (open interest) menyusut menjadi 221.427 kontrak dari sebelumnya 228.011 kontrak.
Secara teknikal, pelemahan volume dan open interest mengindikasikan sikap pasar yang cenderung menahan posisi, sembari menunggu katalis baru—baik dari sisi permintaan global, pergerakan mata uang, maupun arah harga minyak nabati pesaing.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekspor akhir bulan serta dinamika nilai tukar ringgit. Jika permintaan dari China dan India belum menunjukkan pemulihan, tekanan terhadap harga CPO berpotensi berlanjut. (A3)