Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mendorong diversifikasi ekspor dengan mengembangkan komoditas pertanian dan perikanan guna mengurangi ketergantungan pada sektor tambang. Foto: Agricom/AI
AGRICOM, KENDARI — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai mengakselerasi strategi diversifikasi ekspor dengan mengalihkan fokus dari dominasi sektor pertambangan ke komoditas pertanian dan perikanan yang lebih berkelanjutan.
Langkah ini diambil sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam tidak terbarukan yang selama ini mendominasi struktur ekspor daerah. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Sukanto Toding, mengungkapkan bahwa sekitar 98 persen nilai ekspor saat ini masih berasal dari sektor tambang.
BACA JUGA:
- HPE Biji Kakao Periode Maret 2026 Anjlok 30,44 Persen Akibat Permintaan Melemah
- Harga Karet SGX–Sicom Rabu (25/3) Turun ke Rp32.713/Kg, Pasar Masih Cari Arah
Kondisi tersebut dinilai membuat perekonomian daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Karena itu, pemerintah daerah mendorong pengembangan komoditas unggulan alternatif yang memiliki nilai tambah dan prospek jangka panjang.
“Kita perlu mengembangkan komoditas berkelanjutan seperti kakao, mete, rumput laut, serta produk perikanan olahan dan hasil pertanian lainnya sebagai motor baru ekspor daerah,” ujar Sukanto, dikutip Agricom.id dari KBRN RRI, Rabu (25/3/2026).
BACA JUGA:
- Harga CPO Global Melemah, Tender KPBN Kompak Withdraw Pada Rabu (25/3)
Menurutnya, penguatan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan tidak hanya akan memperkokoh ketahanan ekonomi daerah, tetapi juga membuka peluang lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan daya saing produk lokal melalui pengolahan bernilai tambah agar mampu bersaing di pasar internasional.
BACA JUGA: WFP Sebut Krisis Pangan Global Mengintai 45 Juta Orang, Indonesia Justru Surplus Beras
Salah satu langkah konkret yang tengah dilakukan adalah pengembangan infrastruktur pelabuhan di Kendari. Fasilitas ini diharapkan dapat memperlancar distribusi dan mendorong ekspor langsung komoditas unggulan Sultra ke pasar global tanpa bergantung pada daerah lain.
Dengan strategi ini, Sulawesi Tenggara optimistis dapat membangun struktur ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan. (A3)