Harga CPO Malaysia Menguat, Terdorong Lonjakan Minyak Mentah Global

Harga CPO Malaysia Menguat, Terdorong Lonjakan Minyak Mentah Global
Agricom.id

14 April 2026 , 13:30 WIB

Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Asia Barat mendorong penguatan CPO di Bursa Malaysia, sementara pasar domestik mencatat pergerakan terbatas. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada perdagangan Senin (13/4/2026), didorong oleh lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat.

Dilansir dari Bernama, mayoritas kontrak CPO mencatatkan kenaikan. Kontrak Mei 2026 naik RM11 menjadi RM4.511 per ton, sementara kontrak Juni 2026 menguat RM17 ke posisi RM4.555 per ton. Tren positif berlanjut pada kontrak Juli 2026 yang meningkat RM21 menjadi RM4.572 per ton.

BACA JUGA: Awal Pekan Melemah, Harga Karet SGX-SICOM Senin (13/4) Turun Rp400 Per Kg

Kenaikan juga terjadi pada kontrak Agustus 2026 yang naik RM27 menjadi RM4.566 per ton serta kontrak September 2026 yang menguat RM29 ke level RM4.549 per ton. Namun, kontrak April 2026 justru mengalami koreksi sebesar RM41 dan ditutup di posisi RM4.450 per ton.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume tercatat naik tipis menjadi 66.741 lot dibandingkan 66.606 lot pada perdagangan Jumat sebelumnya. Meski demikian, posisi open interest mengalami penurunan dari 258.033 kontrak menjadi 256.371 kontrak, mencerminkan adanya aksi ambil untung oleh pelaku pasar. Sementara itu, harga fisik CPO untuk April tercatat stabil di level RM4.580 per ton.

BACA JUGA: Kawal Hilirisasi Ayam di Sulsel, Kementan Tegaskan MoU Harus Berujung Aksi Nyata

Di pasar domestik Indonesia, harga CPO melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat mengalami withdraw (WD), dengan penawaran tertinggi mencapai Rp15.635 per kilogram pada Senin (13/4/2026). Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar Rp46/kg atau 0,30% dibandingkan posisi Jumat (10/4/2026).

Penguatan harga CPO secara global diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika harga energi serta perkembangan geopolitik, yang berpotensi menjaga volatilitas pasar dalam jangka pendek. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP