Mentan Amran Sulaiman menegaskan peran strategis TNI dalam mengawal program pertanian hingga ke tingkat petani, yang berkontribusi pada rekor produksi dan cadangan beras nasional. Foto: Humas Kementan
AGRICOM, BOGOR – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan keberhasilan penguatan ketahanan pangan nasional tidak dapat dilepaskan dari sinergi erat antara pemerintah dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya melalui kedisiplinan dan keterlibatan aktif prajurit di lapangan.
Dalam forum yang dihadiri Panglima TNI Agus Subianto, digelar di Universitas Pertahanan (Unhan), kawasan IPSC Sentul, Kabupaten Bogor, 29 April 2026, Mentan Amran menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi konkret TNI dalam memastikan program pertanian berjalan efektif hingga ke tingkat petani.
Menurutnya, keterlibatan TNI bukan sekadar simbolis, melainkan menjadi faktor kunci dalam menjaga konsistensi implementasi kebijakan pertanian di lapangan. Dari peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) hingga jajaran pimpinan tertinggi, TNI dinilai mampu mempercepat eksekusi program serta memastikan distribusi bantuan dan pengawasan berjalan optimal.
BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi
“Kami utang budi pada TNI. Suatu capaian tidak mungkin diraih tanpa support luar biasa dari TNI, dari Babinsa sampai Panglima,” ujar Mentan Amran dalam forum bersama jajaran pimpinan TNI di Universitas Pertahanan (Unhan),Kawasan IPSC Sentul, Kabupaten Bogor (29/4/2026)
Mentan Amran menegaskan bahwa keterlibatan TNI bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi motor penggerak di lapangan yang memastikan program berjalan efektif hingga tingkat petani.
BACA JUGA: Mentan Amran Sidak Pembibitan Kelapa di Manado, Temukan Ketidaksesuaian Data dan Bibit Tak Layak
Mentan Amran memaparkan sejumlah capaian strategis sektor pertanian. Produksi pangan nasional saat ini telah mencapai sekitar 34,69 juta ton, menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Sementara itu, cadangan beras pemerintah menembus angka 5,12 juta ton, tertinggi sejak republik ini berdiri.
“Dulu, pada 1984, stok kita sekitar 2,6 juta ton. Hari ini kita lebih dari dua kali lipat. Ini kerja keras bersama,” ungkapnya, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Senin (4/5).
Ia juga menyoroti bahwa capaian tersebut diakui oleh berbagai lembaga internasional, seperti Food and Agriculture Organization dan United States Department of Agriculture, serta Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan konsistensi data produksi nasional di kisaran 34–35 juta ton.
BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Resmi Dibuka, Prioritaskan Inovasi Berdampak bagi Sawit, Kelapa, dan Kakao
Lebih lanjut, Mentan Amran menekankan bahwa perubahan signifikan terjadi ketika Indonesia menghentikan impor beras dalam jumlah besar. Sebelumnya, impor mencapai sekitar 7 juta ton, yang turut memengaruhi harga pangan global.
“Hari ini harga pangan dunia bisa lebih stabil karena Indonesia tidak lagi menjadi importir besar. Ini kontribusi nyata kita, bukan hanya untuk dalam negeri, tetapi juga global,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menyoroti peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Mei 2026 Naik Jadi USD 1.049,58/MT, Bea Keluar Dipatok USD 178
“Ini bukan data kami. Ini data BPS, FAO, dan Amerika. Artinya, capaian ini objektif dan terukur,” tegasnya.
Mentan Amran menambahkan bahwa sektor pertanian kini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional, sebagaimana juga diakui oleh Bank Indonesia.
Mentan Amran juga menyampaikan refleksi personal tentang latar belakangnya sebagai anak seorang Babinsa. Ia menggambarkan bagaimana kehidupan sederhana membentuk karakter kerja keras dan ketangguhan yang kini ia bawa dalam kepemimpinannya.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei 2026 Naik, HPE Tembus USD 2.963/MT
“Kami lahir miskin, dibesarkan dalam keterbatasan. Tapi kami bertekad, jangan sampai mati dalam keadaan miskin dan hina. Itu prinsip kami,” ujarnya.
Mentan Amran menekankan bahwa semangat prajurit, disiplin, pantang menyerah, dan loyalitas, menjadi fondasi dalam membangun sistem pangan nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Mentan Amran mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan data dan kolaborasi dalam membangun sektor pertanian.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Naik Tipis, Periode Awal Mei Capai Rp3.921,77/Kg
“Kita gunakan data, jangan pakai sentimen. Negara ini milik bersama. Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Sinergi antara pemerintah, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan, Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai negara dengan sistem pangan yang tangguh dan berdaya saing global. (A3)