Dok. Agricom/ Penguatan harga minyak mentah dunia mendorong kenaikan harga CPO di Bursa Malaysia dan KPBN, dengan kontrak November 2026 menembus RM4.561 per ton.
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada perdagangan Senin (18/5/2026), didorong kenaikan harga minyak mentah global yang memicu sentimen positif di pasar minyak nabati.
Dilansir dari Bernama, kontrak spot Juni 2026 naik RM101 menjadi RM4.491 per ton. Sementara kontrak Juli 2026 menguat RM102 menjadi RM4.522 per ton dan kontrak Agustus 2026 bertambah RM97 menjadi RM4.534 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Kembali Terkoreksi, Permintaan India dan China Jadi Sorotan Pasar
Penguatan juga berlanjut pada kontrak September 2026 yang naik RM93 menjadi RM4.542 per ton. Adapun kontrak Oktober 2026 meningkat RM84 menjadi RM4.549 per ton, sedangkan kontrak November 2026 naik RM80 menjadi RM4.561 per ton.
Kenaikan harga CPO di Bursa Malaysia menunjukkan pasar masih merespons positif pergerakan harga energi global, khususnya minyak mentah yang kembali menguat di tengah kekhawatiran pasokan dan meningkatnya aktivitas ekonomi global.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Senin (18/5) Menguat ke Rp15.300/Kg, Ditopang Reli Minyak Mentah
Meski harga bergerak naik, aktivitas perdagangan tercatat melemah. Volume transaksi turun menjadi 87.585 lot dibandingkan 98.554 lot pada perdagangan Jumat sebelumnya. Open interest juga sedikit terkoreksi menjadi 283.019 kontrak dari sebelumnya 285.554 kontrak.
Di pasar domestik, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) turut mengalami kenaikan. Harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.300/kg pada Senin (18/5/2026), naik Rp200/kg atau sekitar 1,32% dibandingkan posisi Rabu (13/5/2026) yang berada di level Rp15.100/kg.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Awal Pekan Melemah Tipis, Masih Bertahan di Atas Rp38.000/Kg
Kenaikan harga CPO di pasar internasional dan domestik diperkirakan masih akan dipengaruhi beberapa faktor utama, mulai dari perkembangan harga energi dunia, pergerakan nilai tukar ringgit Malaysia, hingga dinamika permintaan minyak nabati global.
Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan permintaan dari negara-negara importir utama seperti India dan China, termasuk arah kebijakan energi dan biodiesel yang dapat mempengaruhi konsumsi minyak sawit dalam beberapa bulan ke depan. (A3)