SNV Impact Forum 2026: Kolaborasi Petani dan Industri Jadi Kunci Pengembangan Pertanian Regeneratif di Perkebunan Sawit

SNV Impact Forum 2026: Kolaborasi Petani dan Industri Jadi Kunci Pengembangan Pertanian Regeneratif di Perkebunan Sawit
Agricom.id

16 July 2026 , 22:17 WIB

Dok. Agricom/Mengusung tema "Regenerative Agriculture for Climate Resilient Livelihood", SNV Impact Forum 2026 menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperluas praktik Regenerative Agriculture.

AGRICOM, JAKARTA – Penerapan pertanian regenerative (regenerative agriculture), mulai mendapat perhatian sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dengan areal perkebunan yang membentang dari Sumatera hingga Papua, transformasi menuju praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dinilai berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Keberhasilan penerapan pertanian regeneratif, menurut para pelaku industri, sangat bergantung pada kolaborasi antara petani, perusahaan, lembaga pendamping, dan berbagai pemangku kepentingan.

BACA JUGA: SNV Dorong Aksi Nyata Pertanian Regeneratif Lewat Impact Forum 2026

Perwakilan Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhan Batu, Syahrianto, mengungkapkan bahwa praktik pertanian regeneratif telah diterapkan di kebun sawit milik para anggota asosiasi di Labuhan Batu sebagai bukti bahwa konsep tersebut dapat diimplementasikan di tingkat petani.

"Bukti nyata pembangunan pertanian regeneratif sudah kami lakukan di lahan perkebunan kelapa sawit di Labuhan Batu," ujarnya saat berbicara dalam SNV Impact Forum 2026 di Jakarta, Kamis (16/7).

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik ke Rp15.700/Kg, Namun Seluruh Tender Berakhir Withdraw

Ia juga mengundang para peserta forum untuk mengunjungi langsung lokasi tersebut agar dapat melihat implementasi praktik pertanian regeneratif yang telah dijalankan di lapangan.

Sementara itu, Senior Advisor Palm Oil SNV, Dani Rahardian, menjelaskan bahwa pengembangan pertanian regeneratif memiliki tantangan yang berbeda antara perkebunan perusahaan dan kebun milik petani. Menurutnya, karakteristik lahan, skala usaha, serta kapasitas pengelolaan menjadi faktor yang memengaruhi proses penerapan praktik tersebut.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Naik Dua Hari Beruntun, KPBN Ikut Menguat ke Rp15.685 per Kg

Meski demikian, SNV berkomitmen untuk memperluas penerapan model pertanian regeneratif melalui berbagai program kolaboratif agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

"SNV akan berupaya melakukan scale-up agar pembangunan pertanian regeneratif dapat berkembang lebih luas di masa depan," kata Dani.

Pandangan serupa disampaikan Harry Puguh Sosiawan dari Louis Dreyfus Company (LDC). Ia menilai keberhasilan pertanian regeneratif memerlukan kemitraan yang kuat antara perusahaan dan petani kelapa sawit.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun 2,78 Persen, BK Ditetapkan USD 148 per Ton

Menurut Harry, kolaborasi tersebut tidak hanya mendukung praktik budidaya yang lebih berkelanjutan, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok sawit yang berkelanjutan. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP