Harga CPO Naik Lagi, Bursa Malaysia Sentuh RM4.636 per Ton


AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan tren penguatan pada awal pekan. Kenaikan terjadi baik di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) maupun di pasar domestik melalui tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), seiring menguatnya harga minyak mentah dunia, kenaikan minyak nabati global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak El Niño terhadap produksi sawit.

Pada perdagangan Senin (20/7/2026), kontrak CPO acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik RM39 per ton atau sekitar 0,85% menjadi RM4.636 per ton (sekitar US$1.134,33) pada jeda perdagangan siang. Penguatan tersebut memperpanjang sentimen positif yang telah terbentuk sejak akhir pekan.

Di pasar domestik, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami kenaikan. Tender CPO ditetapkan sebesar Rp15.777 per kilogram, meningkat Rp77/kg atau sekitar 0,49% dibandingkan harga pada Jumat (17/7/2026) yang berada di level Rp15.700/kg.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melemah, Namun Masih Catat Kenaikan Mingguan

Kenaikan harga CPO didukung oleh reli harga energi global yang meningkatkan daya tarik biodiesel berbasis minyak sawit. Selain itu, pergerakan positif minyak nabati di berbagai bursa internasional turut memberikan dorongan terhadap pasar.

Di China, kontrak minyak kedelai yang paling aktif di Dalian Commodity Exchange menguat 0,51%, sedangkan kontrak minyak sawit naik lebih tinggi, yakni 1,16%. Sementara itu, kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga mencatat kenaikan tipis sebesar 0,06%, mencerminkan sentimen positif di pasar minyak nabati global.

BACA JUGAHarga CPO KPBN Inacom Naik Tipis pada Jumat (17/7), Bursa Malaysia Masih Melemah

Pelaku pasar juga mulai kembali mencermati potensi munculnya fenomena El Niño, yang berisiko mengurangi curah hujan di kawasan produsen utama minyak sawit seperti Indonesia dan Malaysia. Jika kondisi cuaca kering berlangsung dalam periode yang lebih panjang, produksi tandan buah segar (TBS) dan pasokan CPO global berpotensi tertekan, sehingga dapat menopang harga dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan kombinasi penguatan harga energi, meningkatnya harga minyak nabati internasional, serta potensi gangguan produksi akibat faktor cuaca, pasar CPO diperkirakan masih akan bergerak dalam tren positif. Namun, pelaku pasar tetap akan memantau perkembangan permintaan dari negara-negara importir utama serta kebijakan ekspor dan biodiesel yang dapat memengaruhi arah harga selanjutnya. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP